Studi banding tersebut difokuskan pada pendalaman sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi, khususnya pemanfaatan alat pencacah sampah yang dinilai efektif dan berpotensi diterapkan di Kukar.
Rombongan Pemkab Kukar yang terdiri dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Slamet Hadi Raharjo, Kepala Dinas PU Wiyono, Kepala Dinas Perhubungan Ahmad Junaidi, serta jajaran anggota DPRD Kukar lintas komisi disambut Kepala DLH Kulon Progo Duanu Heru Supriyanta bersama tim ahli Universitas 45 Yogyakarta.
Rendi mengungkapkan tantangan besar yang dihadapi Kukar. Dari total produksi sampah sekitar 370 ton per hari di 20 kecamatan, kapasitas pengelolaan saat ini baru mencapai 250 ton. Artinya, terdapat defisit sekitar 127 ton sampah per hari yang berpotensi mencemari lingkungan, termasuk ekosistem Sungai Mahakam.
“Pengelolaan sampah ini adalah variabel kunci. Tanpa pembenahan sistem yang fundamental, sulit bagi kita untuk meraih kembali supremasi Adipura yang terakhir kita dapatkan pada periode 2012–2014 lalu,” tegas Rendi dikonfirmasi Korankaltim.com, Rabu (11/2/2026).
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab Kukar merencanakan pengadaan mesin pencacah dan teknologi insinerator ramah lingkungan dengan sistem pembakaran empat tahap. Teknologi ini diproyeksikan mampu memproses hingga 103 ton sampah per hari secara bersih dan minim polusi.
Dari sisi anggaran, pada 2026 DLHK telah mengalokasikan Rp50 Miliar untuk pengelolaan sampah. Namun, Rendi menilai kebutuhan ideal mencapai sekitar 3 persen dari APBD atau berkisar Rp300 Miliar sampai Rp400 Miliar agar infrastruktur pengelolaan sampah dapat berjalan optimal di seluruh wilayah.
Kecamatan Tenggarong ditetapkan sebagai prioritas penanganan karena menyumbang sekitar 30 persen dari total volume sampah kabupaten. Sementara itu, Muara Jawa akan terus didorong menjadi wilayah percontohan (pilot project) pengelolaan sampah terbaik di Kalimantan Timur.
“Kunjungan ke TPA Banyuroto ini memberikan gambaran konkret mengenai skema manajemen yang efisien. Harapannya, hasil studi ini segera kita implementasikan demi lingkungan Kukar yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tutup Rendi.
Editor: Aspian Nur