Imbasnya pengendara motor dan mobil harus menunggu selama sembilan jam untuk menembus jalur tersebut.
Banjir yang terjadi sejak pukul 06.00 WITA ini terdampak kepada RT 20 pada Senin (2/2/2026) pagi tadi.
Kepala Desa Sanggulan Fahruddin menyebut banjir ini merupakan kejadian pertama yang paling parah. Hingga saat ini jalan masih terendam dan para pengendara mencoba memaksa melintas di aliran banjir tersebut.
“Air naik sampai 50 sentimeter, ini sudah surut tetapi air masih lumayan tinggi, kendaraan warga terpaksa melintas karena sudah sembilan jam menunggu,” kata Fahruddin.
Bagi pengendara yang terjebak kemacetan panjang, pemerintah Desa Sanggulan sudah memberikan opsi jalur alternatif bagi yang berani melintasi jalan berbatu. Jalur tersebut meliputi, Desa Selerong menuju Rapak Lambur hingga Senoni.
“Kalau kondisi jalan pengerasan itu hanya untuk pengendara yang mengetahui medan. Jangan memaksakan,” ungkapnya.
Hingga kini kemacetan masih terjadi dan air dilaporkan belum surut sepenuhnya. Di lokasi kejadian, sejumlah aparat seprti TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur (BPBD Kaltim) dibantu oleh masyarakat setempat untuk mengatur lalu lintas.
Pemicu banjir bukanlah akibat gorong-gorong yang tersendat, melainkan disebabkan oleh luapan air sungai dan diduga kuat akibat aktivitas penebangan hutan skala besar di hulu sungai.
"Kami menduga pemicu banjir ini penebangan pohon di hutan, kami sudah melakukan pengecekan melalui drone dan melihat kawasan hutan sudah gundul,” sebut Fahruddin lagi.
Data dari total luas wilayah Desa Sanggulan sebesar 4.910 hektare hampir 90 persen masuk dalam kawasan konsesi HTI perusahaan tersebut.
"Penebangan hutan itu tidak ada manfaatnya bagi desa. Tidak ada kontribusinya terhadap masyarakat, sementara, hampir seluruh wilayah kami masuk kawasan mereka. Sekarang saat mereka menebang atau panen pohon itu, warga kami yang kena dampak banjirnya," tegasnya.
Editor Aspian Nur