Terkait hal itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara (DKP Kukar) Muslik, memberikan penjelasan.
Menurut Muslik, air pasang menyebabkan gulma yang sebelumnya berada di danau-danau kawasan ulu Mahakam terbawa keluar menuju aliran Sungai Mahakam.
Kondisi itu tidak hanya mengganggu arus sungai, tetapi juga berdampak pada aktivitas transportasi air serta usaha masyarakat, khususnya pembudidaya ikan keramba di sepanjang bantaran Sungai Mahakam, termasuk wilayah Kota Bangun dan sekitarnya.
“Napung atau gulma ini sangat mengganggu, baik untuk lalu lintas sungai maupun usaha perikanan masyarakat. Karena itu, kami melalui PPL (Penyuluh Perikanan Lapangan) telah berkoordinasi dengan BPBD serta berkomunikasi dengan Dinas Perhubungan untuk penanggulangannya,” kata Muslik kepada Korankaltim.com, Rabu (28/1/2026).
Selain gulma, kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir turut memperparah situasi. Minimnya curah hujan disertai suhu panas menyebabkan terjadinya air bangar, yakni kondisi air sungai yang menurun kualitasnya akibat perubahan debit air secara drastis dengan tingkat kekeruhan dan kadar asam yang tinggi.
“Biasanya setelah air pasang tinggi, kemudian air rapak turun, ditambah cuaca panas dan tidak ada hujan, maka air bangar akan terjadi. Ini sebenarnya fenomena yang rutin, meski saat ini kondisinya sulit diprediksi,” jelasnya.
DKP Kukar pun telah mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, khususnya bagi pembudidaya perikanan. Muslik telah menginstruksikan jajarannya di bidang perikanan budidaya untuk menerbitkan edaran dan melakukan imbauan kepada para pembudidaya ikan.
“Kami menyampaikan agar pembudidaya bisa melakukan panen lebih awal jika memungkinkan, melakukan evakuasi ikan, tidak dulu melakukan penebaran benih, melakukan penjarangan, serta meningkatkan oksigenasi,” ucap Muslik lagi.
Karena sistem budidaya dilakukan di perairan terbuka, upaya mitigasi yang dapat dilakukan memang terbatas. Namun langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan kerugian yang dialami pembudidaya akibat fenomena air bangar yang tengah berlangsung. "Kami harap kondisi ini tidak berlangsung lama, dan memang biasanya tidak lama, namun sangat berasa sekali bagi kawan-kawan pembudidaya," tutup Muslik.
Editor: Aspian Nur