Saat itu seorang perempuan sedang melintas menggunakan kendaraan roda duanya, kemudian datang seorang pria dari arah belakang langsung menjambret tas korban yang berisikan dompet, handphone dan lainnya.
“Saya sempat hampir terjatuh dari motor saat kejadian itu, karena ditarik dengan paksa, sudah berusaha juga mengejar tapi ketinggalan jauh, pelaku lari ke arah Tenggarong Seberang. Posisi jalan memang sedang kosong,” kata korban yang tidak mau disebutkan namanya.
Lebih menyedihkannya lagi, saat korban mencoba untuk mengecek CCTV yang berada di Jembatan malah tidak aktif. “Kecewa sekali, selama ini saya kira CCTV itu menyala, ternyata tidak,” sebutnya.
Kini, harapan untuk mendapatkan kembali barang berharga yang hilang terhalang oleh CCTV yang tidak aktif. CCTV yang diharapkan dapat menjadi bukti dalam kejadian tersebut ternyata tidak berfungsi, membuat proses pencarian pelaku menjadi lebih sulit.
“Dengan tidak aktifnya CCTV, sangat sulit bagi saya untuk melaporkan kejadian ini ke polisi karena tidak ada bukti yang cukup. Jika CCTV aktif, akan lebih mudah bagi kami untuk mencari pelaku,” ungkapnya.
Tak sampai di situ, korban lainnya bermunculan. Salah seorang warganet yang juga pernah menjadi korban di jembatan tersebut turut membuka suara, membagikan pengalaman serupa dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap kurangnya keamanan di area Jembatan Kukar.
“Satu minggu yang lalu saya juga jadi korban, handphone saya dirampas orang terus dia langsung kabur. Kemarin ada pos di sana, terus saya mau minta cekkan CCTV untuk bukti, tapi katanya sudah tidak aktif,” tutur Ami.
Pengakuan ini semakin memperkuat desakan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar untuk meningkatkan keamanan dan memperbaiki sistem pengawasan di Jembatan tersebut.
Editor: Erwin