Event ini telah beberapa kali digelar dan menjadi ruang ekspresi bagi pelaku seni, budaya, serta UMKM lokal di wilayah hulu.
Kepala Desa Kota Bangun Ulu Khairul Umam menjelaskan, AWUH pertama kali digelar Desember 2025 lalu dan rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Konsep kegiatan ini mengadopsi model acara Simpang Odah Etam (SOE) yang ada di Tenggarong, namun dikemas dengan identitas lokal khas daerah hulu.
“Dalam satu bulan kita gelar dua kali. Lokasinya bergantian, dua kali di Tepian Indah dan dua kali di Tepian Teras Koba Bersinar,” kata Aroel, sapaan akrab Khairul Umam kepada Korankaltim.com, Senin (26/1/2026).
AWUH melibatkan sekitar 50 hingga 60 pelaku UMKM lokal setiap pelaksanaannya. Selain menghadirkan produk-produk UMKM, acara ini juga menampilkan talenta seni dari berbagai wilayah, tidak hanya dari Kota Bangun, tetapi juga dari Muara Muntai dan daerah hulu lainnya.
“Kalau di Tenggarong namanya SOE, disini kami beri nama AWUH, Acara Wadeh Urang Hulu. Bahasanya bahasa kami sendiri, talent-nya juga dari daerah hulu. Kota Bangun ingin dikonsepkan bukan hanya sebagai sentral sumber daya perikanan di wilayah ulu, tetapi juga sebagai sentral seni dan budaya,” jelas Aroel lagi.
Dalam pelaksanaannya, AWUH melibatkan berbagai unsur dan lembaga desa. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku ekonomi kreatif (Ekraf), serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) turut berperan aktif sesuai dengan tugas masing-masing. “BUMDes dilibatkan untuk pengelolaan tenda dan kebersihan, Ekraf juga terlibat, sementara parkir dikelola oleh Pokdarwis,” terang Aroel.
Melalui AWUH, Pemerintah Desa Kota Bangun Ulu berharap dapat menciptakan ruang publik yang produktif, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta memperkuat identitas seni dan budaya masyarakat hulu secara berkelanjutan.
Aroel menegaskan pentingnya pengelolaan lingkungan dalam setiap kegiatan AWUH. Pengelolaan sampah dilakukan secara terkoordinasi oleh BUMDes, sehingga area kegiatan sudah kembali bersih pada pagi hari setelah acara berlangsung.
“Kami juga selalu memberi arahan agar setiap kegiatan di Koba Ulu tidak membuang sampah ke Sungai Mahakam,” tutup Aroel.
Editor: Aspian Nur