Warga Desa Tukung Ritan, Ima mengungkapkan, air sungai saat ini sudah naik ke jalan umum. Meski belum memutus akses transportasi, warga mulai meningkatkan kewaspadaan karena pola banjir di Tabang biasanya terjadi dengan cepat. Apalagi desa ini pernah dilanda banjir bandang.
“Air sungai baru naik ke jalan, ketinggiannya di atas mata kaki, Kemarin kondisi masih aman, tapi hari ini kami sudah siaga karena hujan turun terus disertai angin,” ungkap Ima, Jumat (9/1/2026).
Wilayah Tabang merupakan daerah langganan banjir, masyarakat sudah menyiapkan lokasi pengungsian yang lebih untuk menyelamatkan harta benda mereka.
“Masyarakat di sini selalu waspada. Kalau air sudah mau naik, barang-barang di pindah ke rumah panggung. Untuk motor dan mobil, biasanya langsung dibawa ke tempat yang lebih tinggi sebelum jalanan terendam,” jelasnya.
Kata Irma, wilayah hulu seperti Desa Bila Talang dan Muara Pedohon biasanya menjadi daerah yang paling terdampak jika terjadi banjir bandang.
“Banjir bandang itu sering terjadi di wilayah hulu sana. Kalau di Ritan pernah juga banjir bandang sampai menenggelamkan rumah warga, tapi sudah lama sekali. Saat ini yang kami khawatirkan adalah kiriman air dari hulu yang bertemu dengan air pasang,” ungkap Irma.
Hingga saat ini, belum ada posko pengungsian atau dapur umum yang didirikan secara permanen oleh pihak desa maupun kecamatan.
Layanan bantuan biasanya baru diturunkan jika kondisi banjir sudah masuk dalam kategori parah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi warga.
Masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Belayan diimbau untuk tetap waspada, mengingat peringatan dini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar terkait ancaman cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga April 2026.
Editor: Erwin