Peristiwa tersebut terjadi saat kondisi air Sungai Mahakam sedang pasang, sehingga arus menjadi lebih kuat dari biasanya.
Camat Muara Kaman, Barliang menjelaskan, kejadian ini mengingatkan warga pada insiden robohnya jembatan kayu beberapa tahun lalu akibat tekanan arus dan material yang menyangkut.
“Kondisinya hampir sama seperti peristiwa jembatan kayu roboh tiga tahun lalu. Bedanya, sekarang jembatan yang ada sudah berstruktur besi, sehingga lebih kuat,” ungkap Barliang kepada Korankaltim.com, Jumat (19/12/2025).
Melihat potensi bahaya yang dapat mengancam jembatan, pemerintah desa segera berkoordinasi dengan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, serta tokoh agama.
Setelah melalui kesepakatan bersama, rumah rakit tersebut akhirnya terpaksa dirobohkan sebagai langkah darurat demi keselamatan infrastruktur dan warga.
“Kalau rakit dibiarkan tertahan di jembatan, risikonya sangat besar. Mau tidak mau, kami harus mengambil tindakan cepat. Keselamatan bersama menjadi pertimbangan utama,” jelas Camat.
Barliang memastikan, rumah rakit tersebut bukanlah hunian utama warga. Lokasinya berada di alur sungai kecil yang relatif aman, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Menurut keterangan, rumah rakit hanyut akibat derasnya arus sungai yang sedang pasang serta dorongan enceng gondok dalam jumlah besar. Pihak kecamatan dengan berkoordinasi dengan Pemdes Sedulang berjanji akan kembali melakukan pembahasan lanjutan dengan warga terdampak untuk mencari solusi terbaik pascakejadian.
Selain penanganan darurat, pemerintah desa juga menekankan pentingnya langkah antisipatif ke depan. Salah satunya dengan pengadaan mesin pencacah enceng gondok guna mengurangi risiko tumpukan kumpai yang kerap menjadi penyebab tersumbatnya alur sungai.
“Kalau di perairan, kita perlu mesin pencacah untuk mengurai enceng gondok sebelum menumpuk dan membahayakan. Ini sama pentingnya dengan alat pemadam di darat. Jika semua pemerintah desa sigap, potensi bahaya bisa segera diantisipasi,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di wilayah perairan, sekaligus perlunya dukungan sarana dan prasarana guna menjaga keselamatan warga dan infrastruktur desa.
“Semoga baik-baik saja dan ke depan lebih siap siaga lagi,” tutupnya.
Editor: Erwin