Namun, perhatian publik justru tertuju pada dua patung tokoh pewayangan Jawa yakni Arjuna dan Gatot Kaca, yang dinilai tidak merepresentasikan kearifan lokal Kutai.
Sejumlah tokoh budaya, pelaku seni, hingga penggiat literasi menyuarakan keberatan mereka terhadap keberadaan dua patung tersebut.
Mereka menilai, penempatan patung Arjuna dan Gatot Kaca mencederai nilai-nilai budaya lokal Kutai yang seharusnya lebih ditonjolkan di ruang publik. Simbol atau replika yang dipajang idealnya mencerminkan identitas dan kearifan lokal masyarakat Kutai, bukan budaya dari daerah lain.
Derasnya gelombang protes dari berbagai kalangan akhirnya berujung pada penurunan dua patung tersebut. Kontraktor proyek pembangunan Pasar Tangga Arung, atas instruksi dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar resmi menurunkan patung Arjuna dan Gatot Kaca dari kawasan taman tersebut.
Seorang pekerja proyek yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan belasan patung super hero yang terpasang di taman tersebut memiliki kualitas yang sangat baik. Patung-patung itu dibuat dari bahan yang tahan terhadap cuaca ekstrem dan memiliki detail yang menyerupai tokoh aslinya.
“Satu patung ini harganya sekitar Rp300 Juta sampai Rp400 Juta, yang paling mahal itu yang robot Gundam,” ungkap pekerja proyek asal Kota Semarang tersebut kepada Korankaltim.com, Selasa (16/12/2025).
Besarnya anggaran pembuatan patung-patung tersebut turut menuai sorotan masyarakat. Julio, warga Kecamatan Tenggarong asal Kelurahan Loa Tebu mengaku terkejut mengetahui nilai anggaran yang mencapai ratusan juta rupiah per patung.
Menurutnya, anggaran sebesar itu akan jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dasar, khususnya perbaikan jalan di wilayahnya. “Kalau anggaran segitu dipakai bangun jalan di Loa Tebu, tepatnya di Dusun Batu Dinding dan Bengkinang, pasti sudah sangat mulus dan baik,” kata Julio.
Kalau total nilai belasan patung yang mencapai miliaran rupiah dialihkan untuk perbaikan jalan, maka kondisi akses jalan di Loa Tebu dapat mulus dari ujung ke ujung. “Pasti masyarakat lebih merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Sementara itu Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PU Kutai Kartanegara Muhammad Jamil enggan memberikan komentar terkait polemik tersebut. Seluruh pernyataan resmi disebutnya harus disampaikan melalui satu pintu, yakni kepala dinas atau sekretaris dinas PU Kukar. “Maaf, saya tidak bisa memberikan keterangan. Harus satu pintu, yaitu Pak Kadis atau Pak Sekdis,” singkat Jamil.
Editor: Aspian Nur