Menurut ketua panitia Henny Amiruddin mengatakan, pihaknya telah melakukan pelatihan daur sampah ini Sembilan tahun, namun dari tahun 2023 melalui Dinas Perindustrian dan perdagangan telah mendampingi ke beberapa kecamatan seperti kecamatan Kota Bangun Darat, Muara Muntai, Kembang Janggut, Muara Wis, dan Kecamatan Tenggarong, pesertanya tercatat 1.632 orang. Dan mereka ingin bergabung dengan pegiat daur ulang. Kemudian pihaknya mendapat dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kukar.
Baru – baru ini, pihaknya melakukan pelatihan di Kecamatan Sebulu yaitu di Desa Beloro 72 orang, Desa Sebulu Modern 45 orang, Desa Mekar Jaya 35, Sebulu Ulu dan Ilir, Desa Selerong. Pegiat daur sampah terdiri dari sekolah, murid, dan para guru. Gerakan ini harus terus bergerak jangan stop. Pegiat daur ulang mendapatkan prioritas di dalam berkarya dan tentu saja berharap dukungan semua pihak, para pegiat bisa mendapatkan tempat sesuai dengan bena dan beli produk lokal.
Saat ini guru-guru, sekolah-sekolah dan murid-murid yang ada di 20 kecamatan, sudah menunggu karya-karya mereka termasuk bahan daur ulang yang nantinya akan digunakan dan akan bersaing dengan produk pabrik.
Sekda Kukar, H Sunggono mengatakan apa yang kita lakukan itu sudah sejalan dengan Visi-Misi Bupati Kukar, diantara dalam programnya one village one produk, setiap desa mempunyai potensi sesuai desanya masing – masing. Melalui kegiatan ini produk daur ulang sampah mudah – mudahan bisa disesuaikan dengan potensi desa masing – masing, dan tidak harus sama.
Pemerintah Kabupaten Kukar mengapresiasi dan menyambut baik atas inisiasi dan penyelenggaraan launching gerakan pegiat daur ulang sampah. Tentunya ini merupakan suatu terobosan dan inovasi dalam penanganan sampah yang selama ini dihadapi bersama. Sunggono mengajak para pegiat sampah untuk terus berusaha atau berikhtiar, selalu bersemangat.
Masyarakat Kukar bisa berbuat tahun depan dibangun kandang ayam petelur di 17 kecamatan, dalam rangka pemenuhan telur di sekolah khususnya makan bergizi gratis MBG dan gizi Masyarakat. Dan ini kesempatan bagi pegiat sampah untuk membudidayakan Ulat maggot BSF (Hermetia illucens) sangat populer karena kandungan proteinnya yang tinggi dan kemampuannya menguraikan limbah organic.
Budidaya maggot relatif mudah dan tidak memerlukan lahan yang luas, menjadikannya pilihan yang efisien untuk peternak. "Ulat merupakan bahan baku makanan ayam tersebut, maka Insya Allah pasti akan dibutuhkan orang lain. Kita harus banyak melakukan terobosan terhadap pakan ternak tersebut," ujarnya. (adv/prokom 03/si/mh)