Hingga September ini, tercatat sebanyak 2.800 kasus, sementara pada tahun 2024 lalu hanya sekitar 2.000 kasus.
Kabid Pemberantasan, Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, Supriyadi menyampaikan meskipun terjadi peningkatan kasus, angka kematian akibat DBD masih tetap nol.
Hal ini menjadi indikator sistem deteksi dini dan penanganan medis di fasilitas kesehatan berjalan dengan baik.
Menurutnya, peningkatan jumlah kasus tidak terlepas dari kondisi lingkungan dan faktor iklim. Musim hujan menyebabkan banyaknya genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Selain itu, kepadatan penduduk juga turut memengaruhi tingginya risiko penularan.
Sebagai langkah antisipasi, seluruh puskesmas di Kukar diwajibkan memiliki fasilitas rapid test DBD agar diagnosis dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
“Deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah kondisi pasien memburuk. Keterlambatan pemeriksaan sering kali menjadi penyebab utama terjadinya kasus fatal,” jelasnya, Selasa (30/9/2025).
Saat ini, Dinkes Kukar sedang memproses penerbitan Instruksi Bupati tentang pemberantasan sarang nyamuk. Kebijakan ini diharapkan memperkuat partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan.
“Pemberantasan sarang nyamuk tidak dapat dilakukan hanya oleh tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan peran aktif masyarakat melalui gerakan 3M Plus,” lanjutnya.
Dinas Kesehatan Kukar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Dengan langkah tersebut diharapkan angka kasus dapat ditekan,” pungkasnya.
Editor: Erwin