Dalam kriteria ini, Lanjong Art Festival dinilai telah menjelma menjadi peristiwa seni yang melampaui batas lokal dan memiliki resonansi nasional.
Namun capaian itu sekaligus membuka ironi. Sejak 2009, Lanjong konsisten menginisiasi Lanjong Art Festival, tetapi hingga kini belum banyak mendapat dukungan konkret dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Sebaliknya, mayoritas dukungan datang dari pemerintah pusat atau lembaga kebudayaan luar negeri, mulai dari Goethe-Institut Jerman, Pusat Kebudayaan Malaysia, Jepang, hingga Brasil. Proses birokrasi yang panjang di tingkat kabupaten kerap menjadi kendala untuk membangun komunikasi dan sinergi.
Meski demikian, kepemimpinan baru di Kutai Kartanegara mulai membuka harapan. Bupati Kutai Kartanegara, dr. Aulia Rahman, menegaskan bahwa Lanjong Art Festival adalah aset kebudayaan daerah yang layak mendapat dukungan penuh. Ia menyebut festival ini sebagai ruang penting yang bukan hanya melestarikan seni, tetapi juga menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif serta memperkuat identitas Kutai di mata nasional maupun global.
“Lanjong adalah kebanggaan kita bersama. Kutai Kartanegara bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga warisan budaya dan kreativitas masyarakatnya. Festival ini membuktikan bahwa kita bisa bersuara di panggung nasional melalui seni,” ujar Aulia Rahman dalam keterangannya.
Ladaya, ruang seni yang dikelola Lanjong, menjadi bukti lain dari kerja konkrit komunitas. Ia bukan hanya ruang seni, melainkan pionir ekowisata di Kutai yang terus bertahan secara mandiri. Bupati menegaskan komitmennya untuk menjadikan Ladaya sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam menumbuhkan sektor pariwisata berbasis kebudayaan.
Sumber daya manusia di balik Lanjong dan Ladaya bukan hadir dalam sekejap. Mereka ditempa dalam praktik panjang berkesenian sekaligus manajerial, dan kini ditantang untuk meningkatkan kapasitas agar dampaknya kian meluas. Dukungan pemerintah daerah diyakini akan memperkuat upaya itu, sehingga Kutai Kartanegara tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga episentrum peristiwa budaya di Kalimantan Timur.
Dalam kacamata politik kebudayaan, langkah Bupati Aulia Rahman mendukung Lanjong Art Festival adalah prestasi tersendiri. Bahwa komunitas seni dari daerah bisa berdiri sejajar dengan festival nasional bukan sekadar capaian administratif, melainkan simbol bahwa kebudayaan adalah jantung yang menjaga sebuah daerah tetap hidup.
Pada akhirnya, penghargaan ini menegaskan satu hal: kebudayaan yang tumbuh dari akar masyarakat akan selalu menemukan jalannya. Dukungan pemerintah, bila hadir dengan tulus dan konsisten, bukan hanya mempercepat langkah, tetapi juga memastikan bahwa karya yang lahir dari daerah mampu melintasi sekat-sekat birokrasi dan menancapkan jejak di panggung nasional. (*)