Plt Sekretaris BPBD Kukar, Abdal menyampaikan hujan di wilayah Kota Tenggarong dan sekitarnya kini mulai jarang terjadi, menandakan potensi masuknya musim kering yang dapat memicu berbagai persoalan.
“Kalau kita lihat dua minggu terakhir, curah hujan sudah sangat sedikit. Kemarin itu hanya sekali hujan turun, dan ini menjadi sinyal bahwa musim kemarau sudah mulai,” jelasnya, Kamis (31/7/2025).
Lanjutnya, dua risiko utama yang biasanya muncul di musim kering adalah kekurangan pasokan air bersih dan meningkatnya potensi kebakaran hutan serta lahan.
Salah satunya kecamatan Loa Kulu menjadi wilayah yang rawan mengalami krisis air bersih. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pasokan dari PDAM dan masih banyaknya warga yang bergantung pada sumur.
“Yang paling rentan memang masyarakat yang masih tergantung pada sumur. Biasanya Loa Kulu terjadi kekurangan air,” tambahnya.
Meskipun demikian, pihaknya memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan gangguan terhadap sektor pertanian. Bahkan, selama musim kemarau tahun lalu, tidak ditemukan keluhan terkait kekeringan yang berdampak pada irigasi sawah. Namun, ia tetap mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan dini di semua sektor, mengingat ketidakpastian durasi musim kemarau tahun ini.
Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, BPBD Kukar telah menyiapkan langkah-langkah internal, termasuk menyiagakan personel di lapangan. Namun, ia mengakui jumlah petugas lapangan saat ini terbatas. Karena itu, BPBD mengandalkan kerja sama dengan kelompok relawan yang tersebar di berbagai wilayah Kukar.
“Kami berharap peran serta relawan terus dibangun. Komunikasi yang baik akan sangat membantu di lapangan,” ungkapnya.
BPBD Kukar meminta warga yang berkebun atau mengelola lahan agar memastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan.
“Kalau membakar, sebaiknya dipantau dan pastikan api terkendali. Jangan sampai kebakaran merambat ke lahan lain,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya melapor kepada pemerintah desa sebelum melakukan pembakaran. Hal ini penting agar ada pemantauan, sehingga tidak dilakukan serentak dalam skala besar yang bisa memicu bencana.
“Sebaiknya juga buat sekat bakar, sebagai bentuk tanggung jawab menjaga lingkungan,” tutupnya.
Editor: Erwin