Pasar Petang, Menyemai Sastra di Tengah Hiruk Pikuk Senja
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Erlita Budiarti
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Sebuah pasar biasanya identik dengan hiruk-pikuk jual beli barang, tawar-menawar harga, dan suara ramai khas ruang publik.
Namun, di tangan Yayasan Lanjong dan Ruang Sastra Kalimantan Timur, definisi itu digeser dengan lembut namun pasti. “Pasar Petang”, yang digelar di kawasan wisata budaya Ladaya, Tenggarong, menjadi semacam oase, ruang pertemuan antara manusia, kata dan budaya dalam satu tarikan napas senja.
“Ini bukan sekadar event. Ini adalah cara kami membangun kembali hubungan manusia dengan bahasa yang selama ini makin tergerus oleh rutinitas digital,” ucap Ketua Yayasan Lanjong, Ahmad Qoshashih, Sabtu (17/5/2025).
Dengan mengusung konsep “kata sebagai mata uang”, pengunjung Pasar Petang tidak membayar dengan uang, melainkan dengan puisi, catatan pendek, atau kalimat penuh rasa. Sebuah sistem barter estetik yang membuka ruang intim antara pengunjung dan karya sastra.
Mengangkat tema Setelah Korrie, Pasar Petang menjelma sebagai bentuk penghormatan dan keberlanjutan terhadap jejak Korrie Layun Rampan, sastrawan besar Kaltim.
Alih-alih terjebak dalam romantisme masa lalu, acara ini justru memetik semangat Korrie untuk menanam benih baru dalam ladang sastra yang terus tumbuh. Dalam diskusi utama, hadir tiga tokoh lintas generasi, Dahri Dahlan, Kristal Firdaus dan Fitriani Um Salva, masing-masing membawa suara dan refleksi zamannya.
Tak hanya diskusi, dua antologi sastra pun diluncurkan dalam momen ini, Cermin Lain di Balik Pintu Lamin dan Hal-hal yang Tersisa dari Jam Makan Malam (2025). Keduanya bukan hanya buku, tetapi peta perasaan, penanda zaman dan bukti bahwa Kaltim tidak pernah kehabisan energi kreatif.
Di tengah aroma kopi, gerai tato temporer, dan makanan ringan khas pasar, kata-kata menggema dengan cara yang sangat tak terduga. Sastra turun dari menara gading, membaur dalam keseharian. Inilah kekuatan Pasar Petang: ia tidak memisahkan yang adiluhung dari yang keseharian. Justru di ruang itulah keduanya bertemu, berdialog, dan saling melengkapi.
“Pasar Petang membuktikan bahwa sastra tak harus sunyi dan eksklusif, Ia bisa hangat, ramah, dan inklusif. Ia menyapa lewat senja, dan menjadi milik siapa saja. Sebuah manifestasi bahwa ketika kata-kata diberi ruang, mereka bukan hanya hidup mereka menciptakan kehidupan,” tutupnya.
Editor: Erwin









