Hal ini imbas dari banyaknya kendaraan baik roda dua maupun roda empat tiba-tiba rusak setelah mengisi BBM di sejumlah SPBU baik yang ada di kawasan Kota Samarinda maupun Kota Tenggarong.
“Iya saya juga mengalaminya, habis ngisi Pertamax full 65 ribu rupiah di SPBU Tenggarong, motor saya jalannya brebet-brebet dan mati, ini rencana nyari bengkel yang sudah buka,” kata seorang warga Tenggarong yang juga akademisi dari Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Awang Rifani kepada Korankaltim.com, Rabu (2/4/2025).
Nasib serupa juga dialami oleh warga Tenggarong Fauzy Prakoso yang terpaksa gagal melakukan kunjungan silaturahmi ke rumah saudara dalam momen Lebaran tahun ini. Hal ini lantaran unit roda empat yang dikendarainya bersama keluarga mengalami kerusakan seperti pembakaran yang tidak sempurna di ruang mesin usai mengisi BBM disebuah SPBU di Kota Samarinda.
“Apes kena juga saya, niat hati menghindari Pertamax dan Pertalite karena banyak keluhan di medsos kan, jadi mobil saya isi dengan jenis BBM Pertamax Turbo, ehh malah sama aja, ini mobil sudah kami bawa ke bengkel,” kata pria 36 tahun itu.
Dari perbaikan yang dilakukan oleh bengkel, ternyata penyebab utama dari kerusakan mobil yang dialaminya karena BBM yang tidak layak, bercampur lumpur dan berbau tidak semestinya layaknya aroma BBM pada umumnya.
“Pertamax turbo itu kan harusnya warna merah ya, nah ini dia ungu kehitaman dan ada endapan lumpur, penyaringan beberapa kali dilakukan oleh orang bengkel setelah tangki mobil dilepas, dari penyaringan yang dilakukan ini hanya 5 liter saja yang benar-benar minyak, kami ngisi full 45 liter, jadi artinya 40 liter nya campuran air semua, hanya 5 liter saja yang minyak,” keluhnya.
Ketika ditanya kejadian ini murni kesalahan pihak SPBU, Fauzy menyatakan tidak sepenuhnya salah dari SPBU, karena jika hanya kesalahan dari pihak SPBU maka korban yang mengalami kejadian serupa tidak sebanyak ini. “Ini yang salah dari pihak Pertamina bukan pihak SPBU nya, kalau menurut saya sih dari kilang minyak nya ini yang perlu kita tuntut, pertalite, pertamax sampai pertamax turbo semuanya bermasalah, artinya kan ini dari kilangnya, dan kejadian ini terjadi bukan hanya di SPBU tertentu saja,” tegasnya.
Kejadian menjengkelkan ini juga turut dirasakan oleh pengusaha jasa angkut, Sigit Yananta yang terpaksa mengurangi mobilitas pekerjaannya terutama unit jasa angkutnya yang berjenis mesin bensin. “Ya untuk sementara kita menggunakan yang jenis diesel dulu. Saya sepakat kalau yang patut disalahkan itu kilangnya, tapi tentu juga pihak SPBU bertanggung jawab, kan sebelum memasukkan di tangki itu membutuhkan proses sonding dulu, diambil sampel berapa liter, kemudian baru dibongkar di tangki SPBU. Intinya Pertamina wajib bertanggung jawab atas fenomena banyaknya kendaraan warga yang rusak usai mengisi BBM,” ujar Sigit.
Editor Aspian Nur