Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar) Supriyadi mengatakan, DBD memang faktor penyebabnya adalah gigitan nyamuk aedes aegypti dan secara populasinya tidak bisa dibasmi atau dihabisi.
“DBD itu pasti terjadi tapi diupayakan jangan sampai pasien yang terkena itu meninggal,” kata Supriyadi kepada Korankaltim.com Selasa (24/9/2024) hari ini.
Kalau diketahui sejak awal maka penanganannya sangat mudah, begitu diketahui DBD maka segera ditangani dengan diinfus diobati pasti sembuh. Sebagian besar pasien DBD itu meninggal karena terlambat. “Misalnya dia yang merasa demam biasa beli obat sendiri diobati sendiri ternyata DBD, jadi pas ketika ke fasilitas kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit, Klinik) sudah terlambat,” papar Supriyadi.
Edukasi yang diharapkan bisa dipahami oleh masyarakat, pertama masyarakat melakukan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk di sekitar tempat tinggalnya, membersihkan ban bekas atau kaleng-kaleng bekas yang menjadi media untuk berkembang biaknya nyamuk. “PSN itu nomor satu, kemudian yang kedua bila sakit demam dan sebagainya itu harus segera ke faskes jangan berobat sendiri, karena ketika sudah terlambat dan kondisi umumnya sudah jelek maka terlambat sudah penanganannya,” jelasnya.
Kemudian langkah terakhir adalah di-fogging.
“Kalau sudah seperti ini nyamuk nya sudah tidak mempan lagi (di-fogging), repot lagi nanti harus ganti obat lagi, ini juga penting untuk dicermati apabila ada yang menawarkan fogging di luar Puskesmas itu tidak usah dilayani apalagi itu berbayar,” sebutnya.
Jika memang kasusnya meningkat drastis maka bisa diusulkan ke Puskesmas karena pihak Puskesmas tahu dosisnya berapa, terus area luasnya yang di-fogging itu berapa. “Syaratnya di-fogging tidak harus ada yang meninggal dulu, misalnya peningkatan kasusnya sangat luar biasa atau cepat itu memang perlu di-fogging dan harus dilakukan dua kali fogging. Fogging yang pertama itu masih ada tinggal jentik ketika siklus berikutnya yang dewasa juga harus dibunuh lagi,” kata Supriyadi.
Editor Aspian Nur