Setelah Nutuk Beham yakni prosesi adat menyambut panen raya dan Muang yakni prosesi upacara kematian menjadi warisan budaya tak benda tingkat nasional, kini ada satu warisan budaya tak benda lagi dari Desa Kedang Ipil diusulkan hal serupa, bahkan diusulkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi yakni tingkat internasional ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), organisasi yang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mengurus masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Kiftiawati, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Samarinda yang saat ini melakukan penelitian dan riset di Desa Kedang Ipil mengungkapkan, hasil riset yang telah dilakukannya menyatakan masyarakat Desa Kedang Ipil ini adalah masyarakat Kutai pra Islam.
"Mereka masih menganut religi yang mereka namakan Kutai Adat Lawas, anutan religi ini sebenarnya banyak selain di Kedang Ipil juga ada di Kutai Barat juga Kutai Timur, tapi yang sistemnya masih terjaga masih lengkap itu ya hanya di Kedang Ipil ini, makanya bisa kita bayangkan ya ketika tambang ketika sawit masuk akan seperti apa sementara ritual kan memerlukan banyak perlengkapan dan itu berasalnya dari alam," papar Kiftiawati kepada Korankaltim.com, Jumat (9/8/2024).
Usulan ke UNESCO sudah sejak tahun 2021 lalu yakni pada saat itu dirinya bersama Disdikbud Kaltim mengusulkan mengajukan menjadi warisan budaya tak benda yaitu acara adat Nutuk Beham dan Muang.
Dua proses adat ini ketika diusulkan tenyata lolos terus sehingga dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda tingkat nasional 2022. "Ada SK Kemendikbudnya, kemudian diproses dan ada masukan inikan ritualnya ritual bahasa dewa (yang digunakan) tolong diajukan lagi nanti di tahun berikutnya supaya nanti Indonesia punya warisan budaya tak benda yaitu adalah bahasa langit, kenapa ini penting karena bahasa langit itu oleh UNESCO dinyatakan sudah punah di Eropa dan Amerika, tapi di Indonesia masih ada dan apalagi ini di Kaltim itukan sangat penting," jelasnya.
Untuk bahasa langit atau bahasa dewa ini sebetulnya selain di Kaltim ada juga suku-suku lain yang juga masih menggunakan bahasa dewa, seperti di Maluku dengan nama bahasa tanah, tapi penuturnya sudah punah, lalu di NTT juga masih ada.
"Namun penuturnya yang di NTT kita lacak ada beberapa, cuma ya itu yang ekosistem nya masih kuat ya tinggal yang di Kedang Ipil ini, mungkin di suku lain ada di Kalimantan Timur tapi dibandingkan dengan wilayah lain NTT dan Maluku inikan satu hal yang sangat berharga dan ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk menjaganya," tutup Kiftiawati.
Editor: Aspian Nur