Normalisasi itu membuat kualitas air baku yang diolah menjadi air bersih oleh IPA Bekotok untuk didistribusikan ke masyarakat pengguna layanan yang berada di kawasan Maluhu, Gunung Belah, Gunung Pegat, Spontan dan Bensamar mengalami penurunan kualitas.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Suparno didampingi Kasubag Humas Wahono dan Kepala Cabang Tenggarong, Sutikno telah berkoordinasi dengan forum pelanggan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar memaklumi kondisi ini.
"Ya mau tidak mau kegiatan itu mempengaruhi kualitas air baku yang ada di Sungai Tenggarong tetapi inikan memang harus dinormalisasi, ternyata memang di hulu nya pun seperti itu semakin mengecil karena semakin tumbuhnya enceng gondok dan gulma ini menyatu, pasti dengan diaduknya sungai ini kekeruhan air baku yang diterima itu sampai terakhir kemarin itu 650 entinue ini tentu diluar ambang batas kita bisa mengolah air baku menjadi air bersih," papar Suparno kepada awak media Senin (29/1/2024) pagi tadi.
Langkah solutif yang diambil manajemen Perumda Tirta Mahakam yaitu dengan beberapa opsi karena pihaknya juga wajib mendukung normalisasi sungai Tenggarong karena kegiatan ini baru pertama kali dilakukan sepanjang sejarah berdirinya Kota Tenggarong dan kondisinya memang sangat parah, tidak lancarnya aliran Sungai Tenggarong mengalirkan sampai ke Mahakam kemudian juga pada suatu waktu hal ini pula yang menyebabkan banjir di sebagian kawasan perkotaan.
"Normalisasi ini tentu berpengaruh dengan layanan yang diberikan, kami harap kepada masyarakat memaklumi, kami pun tidak tinggal diam, diantaraya mengoptimalkan IPA 1 Sukarame didistribusikan ke IPA Bekotok, kami mengirim air kemudian nanti didistribusikan sampai ke IPA Bekotok dikecilkan seminimal mungkin saat ini 65 liter perdetik ini mungkin hanya 30-40 liter sehingga menghasilkan air bersih, tetapi konsekuensinya tentunya biaya produksi membesar karena kualitas air bakunya sangat parah. Kemudian percepatan nya untuk menanggulangi ini kami interkoneksi yang memang belum selesai karena anggaran APBD I itu tidak sampai pada reservoar nya IPA Bekotok dan sudah kami lakukan, Alhamdulillah dua hari lalu sudah selesai," jelas Suparno lagi.
Saat ini ada pekerjaan lagi yaitu interkoneksi dari IPA Kilometer 14 WTP 10 liter perdetik yang saat ini dikhususkan untuk SPN dan jaringannya sudah diarahkan untuk ke Desa Bensamar.
"Tersuplay dari IPA Kilometer 14 karena saya yakin kualitas IPA 14 itu akan lebih baik karena menggunakan air baku dari eks void PT MHU guna memenuhi kualitas air baku untuk diolah menjadi air bersih, ini upaya kami untuk mengatasi entinue sungai Tenggarong yang semakin jelek," tegasnya.
Perumda memberikan apresiasi kepada pemerintah yang melakukan program normalisasi Sungai Tenggarong, karena memang sumber daya air atau rencana pengamanan air minum ini tidak bisa hanya Perumda sendiri, pasti butuh campur tangan pemerintah yang diharapkan sehingga sumber air baku yang jadi satu-satunya di Sungai Tenggarong ini bisa lebih terjaga.
"Tidak ada kata terlambat untuk menormalisasi Sungai Tenggarong tapi ini juga upaya pemerintah mengamankan air baku atau aliran Sungai Tenggarong ini sehingga kedepannya semakin baik dan meminimalkan mungkin banjir yang terjadi di Kota Tenggarong, kami harap ini bisa dipahami masyarakat dan kami mohon maaf ada beberapa daerah tidak dapat air namun ada juga yang dapat tapi dengan kualitasnya mohon maaf keruh berbau tapi minggu-minggu ini yang saya sampaikan dua kegiatan untuk menyuplai WTP Bekotok ini bisa selesai, kualitas tetap menjadi dasar kami dalam memberikan pelayanan tapi kondisi di lapangan seperti itu kejadiannya, kita harapkan apa yang menjadi tujuan layanan kami ke masyarakat bisa cepat dan lebih baik," tutup Suparno.
Editor: Aspian Nur