"Hampir 80 persen lahan pertanian di Kukar itu tadah air hujan dan sekarang memang masuk kemarau," kata Bupati Kukar, Edi Damansyah pada Sabtu (2/9/2023).
Oleh karenanya, Edi meminta dilakukan pendataan mengingat lahan tadah air hujan di Kukar ini spesifiknya berbeda-beda. Sebab ada titik-titik tertentu yang tidak terganggu pengairannya meskipun mengalami kekeringan.
"Jadi saya minta didata beberapa titik lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Artinya dimana ada kategori yang memang sangat tinggi kerawanannya untuk terjadi gagal panen," ungkapnya.
Ditambahkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kukar, Muhammad Taufik bahwa pihaknya sudah melakukan pendataan tersebut. Dari sejumlah hasil yang disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan kunjungan bersama Bupati Kukar beberapa waktu lalu didapati beberapa titik yang memiliki indikasi gagal panen. "Ada beberapa titik namun luasannya masih di bawah 200 hektare. Baru indikasi dan belum sampai gagal panen," tegasnya.
Untuk itu, dalam mengantisipasi kondisi gagal panen ini, Distannak Kukar telah menyiapkan beberapa strategi. Salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan pompa air yang dikoordinasikan bersama PPL. Sebab masih ada sumber air yang bisa dimaksimalkan dengan menggunakan pompa.
"Kami juga minta petani lainnya bisa menyampaikan kepada PPL atau Distannak Kukar jika memang perlu menggerakkan pompa untuk bantu mengatasi kekeringan. Harapan dan doa kita semua adalah jangan sampai terjadi gagal panen dalam musim kemarau ini," tutupnya.
Editor: Maruly Zainuddin