Taufik menyebutkan ada beberapa lokasi yang sudah dilanda banjir dan kemarau. Dalam waktu dekat ini akan dimonitor kemudian meminta data di desa-desa terkait kondisi yang diprediksi ada wilayah yang mengalami gagal panen.
“Kami akan monitoring barangkali sudah ada petani yang ikut program asuransi usaha tani nanti jika terjadi gagal panen bisa diupayakan untuk mendapatkannya. Kedepan kita akan coba meningkatkan asuransi ini sehinhga bisa dialokasikan menjadi anggaran daerah dan menjadi asuransi primer,” kata Taufik kepada awak media, Senin (7/8/2023).
Mantan Kadis Perkebunan ini menilai manfaat asuransi ini sangat besar bagi petani kecil. Jika gagal panen minimal bisa memberi kompensasi, namun sejauh ini pihaknya mengakui belum sempat melihat ada data petani Kukar yang tercover dengan asuransi ini.
Adapun upaya pemerintah terkait hal ini, karena ini program nasional jadi yang diakomodir melalui program asuransi ini tentunya terbatas. Apalagi tahun ini baru pertama mengalami kemarau panjang.
“Kita juga mendorong petani untuk menyiapkan kolam-kolam kecil untuk menadah air hujan. Meski volumenya kecil tetap bisa bertahan,” ungkapnya.
Adapun perkiraan lahan pertanian yang terdampak kondisi kemarau diprediksi cukup besar karena saat ini sedang masa pertumbuhan dan luas tanaman padi yang mencapai 18 ribuan hektar bisa terancam.
“Itu masih prediksi, kemarin kami baru mendapat laporan dari Desa Jembayan terkait kekeringan. Untuk daerah lain belum dapat data nanti akan kami data lagi,” jelas Taufik.
Akibat kondisi ini yang akan terdampak juga terkait harga pangan yang kemungkinan mengalami kenaikan. Taufik menegaskan hal tersebut sudah faktor alam, jika gagal panen bahan pangan pasti naik.
“Itu yang bisa menimbulkan inflasi. Kita terus mendorong petani agar bisa melakukan statitis sehingga bisa mengatasi kekeringan ini. Terutama di daerah pedalaman yang akan kesulitan pasokan pangan,” ucap Taufik.
Editor Aspian Nur