"Bahkan Kaltim menempati urutan kelima nasional di bawah Yogyakarta dan kota besar lainnya di Indonesia, namun memang itu hasil survei kan secara umum secara general," kata Kepala Diarpus Kukar, Ahyani Fadianur Diani saat dikonfirmasi korankaltim.com, Jumat (22/7/2022).
Ahyani menyadari, hasil survei ini patutnya harus ditanggapi secara positif dengan seluruh pemangku kepentingan dengan bisa menyediakan sarana prasarana bahan bacaan untuk memenuhi kebutuhan minat baca di Kaltim, tak terkecuali di Kukar.
"Hasil survei yang dilakukan memang secara umum lebih kepada di perkotaan dan orang yang banyak, artinya kalau secara general memang proses itu dilakukan dan akhirnya mendapatkan hasil minat baca yang tinggi, karena memang banyak orang, sementara kalau nanti diparsialkan, mohon maaf antar kabupaten kota itu mungkin ya bisa (tapi bahan bacaannya yang kekurangan, Red), contohnya seumpama di daerah kita ini di Tenggarong, kalau Tenggarong ya mayoritas orang memang banyak, nah kita mendorong nanti itu sampai ke desa ke kecamatan-kecamatan target kita, ya syukur saja memang kalau minat bacanya itu bisa tinggi juga," ungkapnya.
Saat ini dan ke depan, Diarpus Kukar mengajak semua pemangku kepentingan agar memprioritaskan pembangunan SDM lewat literasi. Pihaknya berencana akan melakukan aktualisasi optimalisasi peran perpustakaan hingga cakupan ke desa-desa.
"Rencana saya itu membangun sampai ke desa ya, kita berharap ya mungkin itu bisa lebih baik. Salah satu tujuan dari Rakor yang perdana kita gelar kemarin itu ya para peserta rakor disaat kembali ke tempatnya bisa membenahi perpustakaannya masing-masing," jelasnya.
Kembali ditegaskan Ahyani saat ini dan ke depan kita yang peduli terhadap keberadaan perpustakaan tidak bisa berharap banyak dengan anggaran. Artinya, maksimalkan saja anggaran yang ada, terus progreskan dulu apa yang bisa dibenahi untuk di-update setiap tahunnya.
"Contohnya misalnya buku yang sementara buku hanya ada 50 judul dengan anggaran yang ada mungkin bisa dinaikkan terus ke depan jadi 60, kemudian umpamanya sarana prasarana gedungnya misalnya ada bocor-bocor itu bisa diperbaiki dulu sendiri atau bisa saja melalui CSR dengan pihak-pihak perusahaan, bikinlah proposal yang memang nanti yang dibutuhkan dan itu tidak ada masalah untuk regulasinya dan itu bantuan kan bebas, ya harapannya pihak swasta perusahaan ini juga menyambut ini," tegasnya.
Ahyani pun mengajak kepada seluruh perusahaan untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap keberadaan perpustakaan di wilayah desa atau kecamatan perusahaan beroperasi. "Ya berkontribusi lah, ibaratnya kalau di sektor swasta ini untuk membantu perpustakaan ya saya rasa tidak terlalu besar biayanya dibandingkan dengan konstruksi, dan pembangunan untuk perpustakaan ini sifatnya berkelanjutan, selain itu juga tidak terlalu banyak yang mereka keluarkan untuk membantu perpustakaan kita khususnya nanti yang ada perusahaan-perusahaan setempat entah itu di desa entah itu di kecamatan kita berharap begitu dan sektor lain bisa saja, misal kawan-kawan yang punya kelebihan buku yang tidak digunakan lagi ya dihibahkan kepada perpustakaan setempat, banyak sebenarnya alternatif yang bisa dilakukan untuk membangun perpustakaan," demikian Ahyani.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah