"Semuanya sudah menggunakan (bentuk kerja sama dengan nama, Red) PT TP. Bertahap kita akan melakukan konsolidasi, Alhamdulillah selama 3 bulan sudah mulai hidup, dan kita juga sudah menyusun menyelesaikan pajak yang terkatung-katung bertahun-tahun dan pak Bupati hampir memutuskan mematisurikan tapi Alhamdulillah tidak jadi dan kami bisa menyelesaikan, juga kami mulai menyelesaikan masalah masa lalu, misalnya pesangon karyawan yang tiga periode itu kita selesaikan tapi bertahap," kata Direktur PT TP Awang Muhammad Luthfi kepada korankaltim.com, Jumat (3/6/2022).
Luthfi mengakui tahun ini menjadi tahun yang luar biasa dan kerja berat namun dengan manajemen yang profesional semua semuanya bisa perlahan bertahap teratasi.
"Manajemen yang profesional semua serta hanya ada direktur satu, single director jadi style nya kaya luar negeri dan konsepnya berbasis kuat sekali, kita juga sudah punya web, tim digital sudah ada, tim bisnisnya ada 4 bisnis, jadi kita bisnis development, kerjasama dengan perusahaan BUMN, Pelindo dan perusahaan luar negeri kemudian kita juga berencana kerjasama dengan perusahaan tambang termasuk mengakuisisi tambang," sebutnya.
Semua upaya ini tercapai dan menjadi prestasi karena perusahaan ini kembali bangkit tanpa adanya penyertaan modal dari pemerintah. "Jadi harus diingat Perusda Tunggang Parangan tanpa penyertaan modal, jadi memang mati suri namun bisa hidup tanpa diinfus (sertakan modal). Intinya memang harus profesional bekerjanya dan bentuk irama style culture juga berubah, jadi bukan gaya seperti BUMN atau gaya perusahaan biasa," jelasnya.
"Perusahaan ini mines Rp32 miliar tapi karena reborn tadi, maka itu dianggap masa lalu dan itu milik pemerintah, jadi kita mulai dari nol dan tidak dimodali artinya kita harus tentukan auditnya karena itu pertanggungjawaban pemerintah dan tetap ada angka itu, cuma pembukuan kita pembukuan baru," imbuh .
Luthfi menegaskan PT TP ke depan juga tidak menghalangi bagi siapa saja yang ingin menanamkan sahamnya, seiring berjalannya waktu pihaknya juga akan membentuk anak perusahaan untuk kolaborasi mengakuisisi kawasan tertentu, juga kolaborasi dengan perusahaan dari BUMN untuk berbagi saham.
"Cuma induknya belum, modalnya holding company. Bisnis ke depan tentu sesuai perda yakni ada tujuh. Tapi yang sudah jalan ialah Kutai berbasis digital, pertama di Kalimantan Kutai berbasis digital kerjasama dengan perusahaan luar negeri, kita akan launching nanti pada saat TIFAF bulan Juli, jadi untuk Kutai atau Tenggarong sudah 6G teknologinya, jadi sedang persiapan perangkatnya, kemudian kerjasama dengan pertambangan termasuk pengelolaan sungai Mahakam, kalau kemarin cuma memaksimalkan assist pandu di Jembatan Tenggarong, bulan depan kita sudah masuk di jembatan Kota Bangun, akan kami ambil alih pengelolaannya," demikian Luthfi.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah