"Perlu dibuat peninjauan kembali manajemen pengelolaan sampah kebersihan dan lain sebagainya di kota ini. Seperti di Balikpapan sudah tidak terlihat lagi TPS di tepi jalan, semua di dalam tersembunyi, begitu pula di Samarinda sistem angkutan mereka shift-nya bertambah, ada empat shift pengangkutan sampah, setiap enam jam ganti orang supir dan tenaganya," katanya kepada KoranKaltim.com, Selasa (31/5/2022).
Samad mengungkapkan untuk di Kukar khususnya Tenggarong masih tertinggal, karena pengangkutan sampah saja masih dilakukan satu kali shift untuk satu hari.
"Satu shift saja, ada yang dua rit ada yang satu rit, jadi ya sekali saja pagi saja, hari ini dan besok lagi. Makanya ke depan ini harus diubah seiring dinamika pengelolaan sampah, perubahan perilaku masyarakat ingin bersih ingin indah dan sehat kan mereka membuangnya ke tempat sampah tapi volumenya banyak, atau penduduk bertambah dan momen tertentu atau urbanisasi," ungkapnya.
Samad menegaskan selain pengelolaan dan sistem manajemen, sarana penunjang juga menjadi perhatian yaitu armada pengangkut sampah baik truk maupun gerobak motor pengangkut sampahnya.
"Armada pengangkut juga menjadi persoalan, alat angkutan yang kita miliki sudah tua semua, Viar kita tinggal berapa unit, sepeda motor gerobak, tidak ada peremajaan tidak ada pergantian yang baru tidak ada penambahan unitnya. Harusnya semakin bertambah volume juga semakin ditambah armadanya," tegasnya.
"Untuk truck-truk sama juga, 15 tahunan umurnya kalau gerobak dan Viar sudah 5 tahun lebih, kita sudah sampaikan ke bupati minta pergantian dan penambahan, kalau truk kita ada 26 namun yang aktif itu cuman 16 saja. Jadi, ada satu hari itu sopir itu gantian truk dan itu masih sampai sekarang, jadi menunggu temannya selesai mengangkut di wilayah tanggung jawabnya terus antar ke TPA kemudian dicuci baru kembali ke kantor dan dipinjam sama teman satunya dan itu tiap hari ada," keluh Samad.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah