"Jadi basisnya itu adalah kebutuhannya. Kan kalau kita bicara PHM yang ada di delta, di Anggana, itu kan ada beberapa kontraktornya. Saya minta lima tahun ke depan apa yang akan dikerjakan di PHM. Setelah itu dirancang baru kita persiapkan," kata Edi.
Sementara pihaknya masih menunggu pemetaan itu selesai, kemudian akan dilakukan pertemuan untuk membahas hal itu. Soal pembiayaannya nanti, lanjut Edi, kolaborasi antara APBD dan SKK Migas beserta KKKS.
Edi menggambarkan akan diberlakukan seleksi bagi para calon peserta pendidikan dan pelatihan terkait migas ini. Setelah mereka lolos seleksi dan mengikutinya pelatihannya hingga akhir, Edi menyebut mereka akan mendapat sertifikasi secara internasional sebagai modal mereka untuk berpartisipasi di bidang migas baik di wilayah kerja di Kukar, Kaltim, bahkan di wilayah manapun di Indonesia hingga ke luar negeri.
"Kenapa saya mendorong ini, saya berkeinginan ada lah putra putri dari Kutai Kartanegara ini yang bisa bekerja di sektor migas tidak hanya menjadi satpam. Jadi bisa di tingkatan manajer-manajer nanti," ungkapnya.
Tidak hanya di sektor migas, hal serupa juga di dorong di sektor perkebunan dan pertanian. MoU juga rencananya akan dibangun bersama asosiasi perusahaan sawit yang ada untuk melakukan hal serupa. Ini, ditegaskannya, merupakan bentuk komitmen bersama menjadikan SDM Kukar yang berdaya saing sebagaimana yang dicita-citakan dalam Kukar Idaman.
"Karena SDM ini sangat penting nanti dalam rangka kita mengembangkan daya saing," demikian Edi.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Supiansyah