Kepala DPMPTSP Kukar Bambang Arwanto memimpin langsung FGD ini, didampingi Ketua Tim akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sudarsono, dihadiri oleh perwakilan pejabat teknis masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemkab Kukar serta tokoh masyarakat dan pihak swasta selaku mitra kerja pemerintah.
“Untuk investasi di Kukar, kami diskusikan bagaimana hal yang terbaik, dibahas bersama tentang tupoksi DPMPTSP dengan memaparkan roadmap investasi, kondisi eksisting investasi Kukar, perjalanan dinamika tata kelola investasi daerah dan ekspektasi investasi ke depan,” kata Bambang mengawali sambutannya pada kegiatan ini.
Saat ini semua proses perijinan sudah berbasis elektronik, baik dari tingkatan kementerian, provinsi sampai kabupaten/kota, semua sudah digital. “Investasi tumbuh dengan baik, karena sektor ekstraktif, terutama batu bara dan sawit. Total perusahaan di Kukar sebanyak 1025, PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) 84 persen, PMA (Penanaman Modal Asing) 16 Persen. Kukar masih mayoritas pertumbuhan investasinya dari sektor primer (sumber daya alam) yakni 53 persen, manufaktur 20 persen dan sector tersier 26,5 persen,” sebut Bambang.
Sementara Sudarsono mengungkapkan kalau Kukar ingin tetap dilirik sebagai tujuan dari investor, harus bisa memposisikan apa yang saat ini sedang dibutuhkan pasar.
Meskipun tujuan dari RPJMD Kukar menitik beratkan pada sector pertanian dan pariwisata namun pada kenyataannya dua sector ini minim sekali menarik investasi dengan alasan isu lingkungan maupun hal lainnya. Karena itu perlu upaya bersama diantaranya dengan penyusunan naskah akademik kebijakan daerah tentang pemberian insentif kepada investor.
“Naskah akademik itu adalah syarat untuk membikin perda tentang pemberian insentif bagi pengembangan investasi, sehingga ini adalah studi awal sebelum ada perda, sehingga tahap kedua nanti bagaimana membuat peraturan daerah yang melibatkan pemerintah kabupaten, birokrat dan legislator di daerah untuk menelurkan Perda tentang pemberian insentif dalam rangka pengembangan investasi di Kutai Kartanegara,” jelas Sudarsono.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur