Andi Faisal mengatakan dari RDP mendapatkan titik terang para pelaku usaha terutama perusahaan sawit yang memiliki pabrik CPO dan pemerintah daerah langsung merespon terkait keluhan masyarakat ini.
“Respon luar biasa dari pemerintah daerah dan pelaku usaha, bahkan pihak perusahaan siap membantu untuk meringankan beban dari ibu-ibu rumah tangga terkait kelangkaan minyak goreng ini, jadi mereka berkomitmen untuk kawasan ring satu wilayah kerja mereka akan dilakukan secepatnya pendistribusian itu (minyak goreng murah),” kata Ical, sapaan akrab Andi Faisal, sapaan akrabnya, kepada awak media, Kamis (17/3/2022) hari ini.
Ada 70 ribu liter minyak goreng yang akan didistribusikan kepada masyarakat. Selain itu juga ada upaya pemerintah daerah yang menjalin kerjasama dengan RNI Group untuk meminta jatah minyak goreng yang telah disiapkan sebanyak 444 ribu liter yang siap didistribusikan ke seluruh kawasan di Kaltim.
“Untuk di Kutai Kartanegara tinggal teknis dan tata laksananya saja di Disperindag dan Perusda KSDE yang ditunjuk dalam hal pendistribusian ini, mudahan pelaksanaan ini cepat terealisasi sebelum bulan ramadan, tinggal tahapan yang di bawah juga harus dilibatkan, seperti teman-teman kelurahan, desa, RT, dusun dan teman-teman institusi penegak hukum yaitu Polri dan TNI karena mereka memiliki lapisan hingga ke paling bawah seperti babhinkamtibmas dan babinsa,” paparnya.
Meskipun minyak goreng ini sederhana namun dalam pendistribusiannya harus dilakukan pengawalan secara terstruktur dan terpantau ketat, karena kalau tidak dikelola dengan baik maka bisa beresiko menyebabkan kerumunan dan bisa dimanfaatkan oleh oknum untuk menimbun dan menjualnya lagi dengan harga mahal.
“Dan ini tanggung jawab kita bersama menjaga agar harga ini stabil. Kami mendorong kepada pemerintah daerah agar bisa membuat pabrik minyak goreng. Malu, masa seperti Bontang dan Balikpapan mereka itu tidak punya perkebunan sawit tapi punya pabrik minyak goreng,” ungkap Ical.
Sementara Arfan Boma menjelaskan, apa yang dilaksanakan oleh perusahaan ini hampir sama mekanismenya dengan operasi pasar. Jadi perusahaan menjual murah kepada masyarakat, berdasarkan surat edaran dari menteri perdagangan bahwa HET tertinggi itu 14 ribu perliter.
“PT Tritunggal dan beberapa perusahaan lain di Muara Badak itu sudah melakukan itu, untuk mengkover yaitu Tenggarong, Samboja, Anggana dan Muara Badak sendiri. Masing-masing kecamatan dibagi jatah kuota 16 ribu liter, khusus Muara Badak ada tambahan kuota 8000 ribu liter jadi total 24 ribu liter,” kata Boma.
Langkah yang dilakukan oleh pemerintah ini sekaligus menjawab kegelisahan masyarakat di situasi sekarang ini. Kemudian untuk 14 kecamatan lainnya diupayakan dari RNI Group yang di Balikpapan dan Bontang dengan total 444 ribu liter.
“Ini nanti dikelola oleh pemerintah melalui Perusda KSDE untuk melaksanakan operasi pasar itu. 444 ribu ini bukan jumlah pasti ya, kita belum tahu dapat jumlah pasti karena kita harus berbagi ke beberapa kabupaten kota se-Kaltim untuk menghimpun kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran distribusi minyak goreng murah ini, kalau memang masih kurang kita masih bisa minta jatah lagi dengan bersurat ke RNI,” sebut Boma.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur