"Dari jam 8 tadi, jam 10-an tadi baru dapat kena giliran saya. Dan antrean kami ini tadi tahap kedua, sebelumnya yang antrean tahap pertama tadi mulai jam 7," katanya kepada korankaltim.com, Selasa (15/3/2022).
Bapak dari empat orang anak ini sengaja ikut berdesak-desakan mengantre minyak goreng murah seharga Rp28 ribu per dua liter itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dia mengaku kasihan bila istrinya yang pergi mengantre. Karena itu, ia rela meninggalkan pekerjannya sebentar sebagai teknisi elektronik di kawasan Tenggarong.
Ia menceritakan pada awalnya teknis antrean dilakukan dua baris oleh pihak toko, namun karena banyak warga yang berdesakan dan tidak patuh akhirnya sempat terjadi kericuhan dan adu mulut antar sesama warga.
"Akhirnya datang polisi untuk mengatur, karena orang yang baru datang ehh tau-tau dia sudah antre berdekatan dengan saya yang sudah antre satu jam lebih sebelumnya. Sistem mengambil nomor antrean dan dua baris awalnya, namun kemudian karena banyak warga yang menyerobot berubahlah tiga baris," ungkapnya.
Seiring berjalannya antrean dan sebagian besar banyak warga yang mengetahui bahwa stok minyak goreng yang dijual oleh toko modern ini terbatas, akhirnya desakan dan sedikit kericuhan pun kembali terjadi, Hendra pun mengakui kalau dirinya sempat beradu argumen dengan aparat kepolisian yang mengatur dan menjaga situasi dan kondisi di lokasi.
"Sempat berdebat leh saya dengan polisi. Pak polisi suruh kembali mengatur jadi dua baris lagi seperti asal, sementara sikonnya sudah tidak memungkinkan untuk diatur ulang lagi," ungkapnya.
Hendra berharap agar situasi ini kembali normal dan minyak goreng kembali tersedia di pasaran.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah