Santi, seorang warga Tenggarong mengatakan, kebutuhan minyak goreng untuk makan sehari-hari masih bisa diakali dengan alternatif lain seperti menggunakan mentega atau margarin atau meniadakan menu-menu gorengan dan beralih ke masakan yang diolah dengan cara direbus ataupun dibakar.
Namun ibunya yang berdagang gado-gado tidak bisa mengakali usahanya dengan menggunakan margarin.
Paling tidak, empat liter minyak goreng hanya untuk menggoreng kerupuknya saja, belum lagi untuk menggoreng 30 kilogram kacang tanah yang membutuhkan sekitar enam liter atau ayam 15 kilogram yang juga membutuhkan minyak paling tidak dua liter dalam satu hari.
"Kemana minyak goreng ni, sudah naik langka juga wujudnya, masa harus antre puluhan meter. Sepertinya perlu balik ke kearifan lokal, apa-apa digoreng makai pasir," tulis Santi di media sosial.
Sejauh ini dalam pantauan Korankaltim.com, hanya toko modern atau ritel-ritel nasional yang memiliki stok minyak goreng untuk dijual dengan harga Rp14 ribu per liter, pasar modern Indomaret satu diantaranya, itupun warga sampai mengantre panjang hanya untuk mendapatkan satu liter minyak goreng.
Berbeda dengan ritel-ritel lokal yang cukup kesulitan untuk mendapatkan minyak goreng dari distributor.
Iwan Swalayan di jalan Danau Semayang, Tenggarong melalui manajer mereka Haidir menjelaskan, dirinya hampir satu bulan ini tak lagi menjual minyak goring karena distributornya juga mengalami kekosongan stok.
Sebelumnya, distributor juga mengajukan sejumlah persyaratan seperti hanya menerima pembayaran secara tunai. Bahkan ada juga yang mensyaratkan pembelian satu dus minyak goreng digandeng dengan satu dus produk lainnya.
"Kalau saya kemarin berjalan itu (digandeng) tepung, jadi beli satu dus minyak goreng merk fortune digandeng satu dus tepung mila. Sempat terjadi seperti itu," jelas Haidir.
Sekarang sudah tidak ada stok sehingga pihaknya tidak lagi menjual minyak goreng. Rumor yang didapatnya, entah valid atau tidak, distributor sudah melemah untuk menalangi pembelian minyak goreng ke produsen. Kondisi ini menjadikan distributornya takut untuk terus-terusan menalangi.
"Karena ini kan sistem subsidi dan ada keterlambatan pembayaran ke distributornya informasinya," ujar Haidir lagi.
Sekarang walaupun memiliki uang untuk membeli minyak goreng seharga Rp50 ribu per dua liter pun, menurut Haidir barangnya pun sudah langka. Jikapun ada barang, kemudian dijual dengan harga yang tinggi diatas HET sesuai dengan modal yang dikeluarkan, maka pihak toko tentu bakal kena teguran karena tidak mengikuti instruksi pemerintah.
Panic buying yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir secara tidak langsung membuka kesempatan bagi penjualnya di manapun untuk meraup keuntungan besar. Kondisi ini juga membuat masyarakat yang membeli ikut mengepul agar stok di rumahnya aman, terlebih menjelang bulan suci Ramadan bulan depan.
Haidir mengaku dirinya telah ditelepon oleh pihak Polres Kukar dan Dinas terkait di Pemkab Kukar, menanyakan detail penjualan serta barang apa saja yang mengalami kelangkaan, hingga informasi kestabilan harga barang.
Hal ini biasa terjadi ketika terjadi kelangkaan barang atau kondisi-kondisi tertentu seperti awal-awal merebaknya Covid-19 lalu.
"Kami tidak bisa ngapa-ngapain karena memang tidak ada barang. Saya juga setiap hari cari info barang ini, giliran ada barang juga itu syaratnya juga banyak," pungkas Haidir.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur