Peningkatan justru mulai terjadi di Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur sebagai efek gelombang ini. Tak ubahnya di daerah di luar Jawa-Bali, gelombang omicron terus bergulir ke Kaltim, bahkan Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurut Kepala Dinkes Kukar, Martina Yulianti, penyebaran varian omicron di Jawa-Bali telah memuncak bahkan melebihi puncak kasus varian delta.
"Dan menurut prediksi epidemiologi, dia pasti bergeser ke kita," kata Martina.
Dia terus mengingatkan bahwa omicron ini sangat cepat menular. Bahkan jauh lebih cepat dibandingkan varian delta. Memang, kata dia, kefatalan omicron ini berkurang bagi orang yang sudah mendapat vaksinasi lengkap. Namun akan sangat berbahaya bagi populasi rentan seperti lansia, anak-anak, dan orang sakit keras.
"Bayangkan saja begini. Ada yang sudah sakit, sakitnya berat, tidak Covid pun dia bakal meninggal. Terus ada yang besuk ke rumah sakit (ternyata) bawa Covid. Nanti ketika pasien diperiksa PCR positif, begitu dia meninggal kasian dong. Harusnya pemakaman cara biasa maka harus cara Covid," jelasnya.
Untuk itu, jam besuk ditiadakan di rumah sakit untuk menghindarkan pasien-pasien lainnya dari kemungkinan ini di samping mencegah pencatatan pertumbuhan kasus meninggal karena Covid-19 meningkat. Kebijakan ini akan terus berlangsung sampai dengan gelombang omicron ini selesai.
"Jadi tidak usah dibesuk. Sebenarnya yang nunggu pun ada potensi kan karena keluar masuk, tapi kita mengurangi. Jadi jam besuk ditiadakan dulu sampai omicron ini berlalu lah. Enggak lama lah, insyaallah," demikian Martina.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Supiansyah