Tak jauh berbeda dengan perayaan hari besar keagamaan lainnya, perayaan Imlek tahun ini dimanfaatkan masyarakat Tionghoa sebagai ajang silaturahmi dan kembali mengeratkan hubungan kekeluargaan yang mungkin sempat renggang terhalang pandemi Covid-19.
Salah seorang warga Tionghoa di Tenggarong, Fransiscus Sugianto mengatakan, seperti perayaan hari raya keagamaan umat lainnya, Imlek juga sebagai sarana dalam hal mengutamakan jalinan tali silaturahmi antar seluruh keluarga besar.
"Seperti biasa, sehari sebelum Imlek itu, malamnya kita sembahyang dulu, jadi di tanggal 31 kemarin sembahyangan dulu kepada leluhur. Kalau kita di Tenggarong ini biasanya sembahyangan di rumah masing-masing," kata Koh Afuk, sapaan Fransiscus Sugianto saat berbincang dengan korankaltim.com, Rabu (2/1/2022).
Dalam prosesi sembahyang yang dilakukan, tentu sembari menyajikan buah-buahan segar yang digemari oleh para leluhur. Keesokan harinya atau utama perayaan Imlek masyarakat Tionghoa bersilaturahmi ke kediaman anggota keluarga yang dituakan.
"Perayaan Imlek ini ramai-ramainya itu ya hari pertama dan kedua," ucap pria satu anak yang memiliki hobi motor gede ini.
Di perayaan Imlek Tahun Macan Air ini, Afuk berharap seluruh kondisi perekonomian yang terdampak dari efek pandemi Covid-19 selama dua tahun ini bisa kembali pulih. Dirinya merasakan dan cukup sedih dengan dampak pandemi, selain perayaan Imlek selama dua tahun benar-benar sepi dan nyaris vakum, sektor ekonomi yang dirasakan masyarakat juga sangat menurun.
"Kita lihat sendiri beberapa toko bahkan mal di Samarinda ada yang tutup kan, apalagi para pedagang- pedagang kecil saudara-saudara kita pasti sangat terdampak. Semoga di tahun macan air ini corona sudah selamanya hilang di muka bumi ini dan kita semua bisa hidup normal lagi seperti dulu, semua perekonomian masyarakat kembali pulih," harap Afuk.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Supiansyah