Karena bencana banjir ini, warga kesulitan akibat putusnya akses jalan menuju ke beberapa kecamatan yang ada di wilayah hulu baik itu Kenohan Kembang Janggut, Tabang, juga kawasan Muara Wis dan Muara Muntai.
"Khususnya kecamatan ulu, yaitu Kenohan, Kembang Janggut, Tabang, Muara Wis, Muara Muntai. Diharapkan OPD terkait bisa membantu kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir, khususnya sembako dan kebutuhan kesehatan," papar Rasid lagi.
Seperti diketahui, banjir tahunan ini memang selalu terjadi secara bergantian dari wilayah paling ulu, yakni Kecamatan Tabang.
Camat Kembang Janggut Tego Yuwono mengungkapkan untuk Kecamatan Kembang Janggut, banjir melanda hampir di seluruh desa.
"Banjir kiriman terjadi hampir tiap tahun sehingga warga sudah hapal dengan kondisi tersebut. Hampir semua desa di Kembang Janggut kebanjiran. Jadi dari Tabang menurun, Kembang Janggut naik (banjir), nanti Kembang Janggut turun Kenohan naik. Biasa begitu 3 sampai 4 hari, kalau Kembang Janggut ini sejak Senin tadi," tambah Tego.
Ada 11 desa yang kebanjiran, diantaranya Desa Genting Tanah, Loa Sakoh, Hambau, Kembang Janggut, Kelekat, Bukit Layang, Perdana, Pulau Pinang, Mueng, Long Beleh Haloq dan Long Beleh Modang.
"Yang parah itu dari Long Beleh Modang, Long Beleh Haloq, Mueng itu di seberang sungai posisinya. Total yang terdampak 2.065 rumah yang dihuni 2.373 kepala keluarga dengan total 9.376 jiwa," papar Tego.
Untuk ketinggian air bervariasi mulai 40 senti hingga yang paling parah hampir mencapai 2 meter. Faktor utama banjir ini diyakini karena curah hujan tinggi yang terjadi di wilayah ulu.
“Warga sudah hapal, jadi kadang-kadang ditawari evakuasi warga tidak mau, mereka membuat barak-barak sendiri dalam rumah, kecuali yang mendesak seperti sakit atau mau melahirkan, baru mereka mau. Paling 3-4 hari sudah surut," tutup Tego.
Penulis Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur