"Untuk konstruksi aspal memang perlu maintenance atau pemeliharaan lebih tinggi ketimbang beton tergantung base serta jenis kendaraan yang melewati. Terkadang enam bulan sampai satu tahun sudah ada pemeliharaan rutin ataupun berkala sehingga kami memelihara bukan pada saat sudah rusak," kata Restu kepada Korankaltim.com, Selasa (11/1/2022) pagi tadi.
Aspal tersebut sangat berbeda dengan penggunaan badan jalan menggunakan beton atau semenisasi. Usia konstruksi bisa lebih lama dan minim pemeliharaan namun biaya konstruksi jauh lebih mahal daripada konstruksi dari aspal.
"Beton biasa lebih lama dan minim pemeliharaan tetapi biaya konstruksi lebih mahal ketimbang aspal, namun penggunaan aspal ramah buat pengendara karena permukaan aspal yang cukup halus membuat ban-ban kendaraan tidak mudah aus," ungkapnya.
Restu berjanji kedepan pihaknya akan lebih cerdas dalam menentukan apakah aspal atau beton untuk dijadikan konstruksi jalan di kawasan perkotaan dan ruas jalan lainnya yang mendukung untuk semua sektor baik perekonomian pariwisata dan kebudayaan.
"Kedepan kami menyikapi secara bijak penggunaan kedua konstruksi tersebut, masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Mudah-mudahan kedepannya kami lebih baik dalam memilih jenis konstruksi yang akan digunakan," harap Restu.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur