"Keluarga di Tenggarong dapat kabarnya tadi malam. Saya di WA kabar itu kurang lebih jam 12, ada ponakan sepupu di Jakarta yang menginformasikan," kata Akhmad dikonfirmasi media, Senin (11/10/2021).
Fakta yang banyak tak diketahui oleh orang, Heldy Djafar ternyata warga asli kelurahan Mangkurawang, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurut Akhmad, dia baru pindah ke Jakarta itu sejak tahun 50-an.
"Asalnya Mangkurawang, orang tua beliau Mangkurawang. Semua sodara-sodaranya kini di Jakarta semua," ungkapnya.
Dilanjutkan Akhmad, ayah Heldy bernama Djafar sempat kembali ke Tenggarong sekitar tahun 76. Dia kemudian wafat di Tenggarong dan dikebumikan di pemakaman jalan AR Sukmawira, Mangkurawang. Sementara ibunya, Hj Hamiah, meninggal di Jakarta.
Di Tenggarong masih ada sepupu-sepupu almarhumah. "Di sini keluarganya ya keluarga sepupu-sepupu, itupun sudah banyak yang meninggal. Saya sendiri keponakannya, dengan ibu saya beliau masih sepupu," tuturnya.
Ahmad sedikit menceritakan bagaimana tantenya itu bisa dekat dengan Sukarno.
Waktu itu perempuan yang lahir pada 11 Juni 1947 itu merupakan anggota dari organisasi yang memperjuangkan soal Bhineka Tunggal Ika, sekitar tahun 60-an.
"Jadi waktu itu almarhum Sukarno tertarik melihat dia," ujarnya.
Pernikahannya dengan Soekarno tidak membuahkan keturunan. Ditambah lagi, situasi politik waktu itu tidak mendukung hubungan keduanya hingga pernikahannya hanya bertahan selama dua tahun.
Dilansir dari Wikipedia, komunikasi keduanya tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.
Akhmad menceritakan, Heldy kemudian menikah lagi dengan pria asal Banjarmasin pada 1968. Dia menikah dengan Gusti Suriansyah Noor, yang masih punya garis keturunan dengan ibu Ahmad sendiri.
"Mereka itu dulu sering aja datang ke sini, terakhir waktu kawinannya Awang Faroek dulu. Biasanya kalau ada acara datang beliau itu, ke Kukar sendiri beberapa tahun yang lalu ada dan masih kontak-kontakan juga dengan keluarga," demikian Ahmad.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan