Ia menyatakan persoalan banjir ini juga dialami oleh 70 persen semua wilayah di Indonesia.
"Tetap itu kami atasi, kami juga berkoordinasi dengan BNPB pusat bahwa memang kondisi kemarin itu 70 persen di wilayah Indonesia mengalami banjir, cuma memang ada beberapa faktor, ada yang banjir kiriman, ada banjir musiman ada yang banjir karena faktor lain di dalamnya," katanya saat dikonfirmasi korankaltim.com, Rabu (29/9/2021).
Rendi menyebutkan, pihaknya sudah melakukan penelusuran persoalan banjir ini dari sektor hulu hingga hilirnya. "Masih ada juga dan kita cari dari hulunya sampai ke hilirnya (problem, red), ujung-ujungnya kita tahu pasti faktor-faktor eks tambang yang ditinggalkan juga salah satu faktor tapi juga ada beberapa faktor lain seperti di Kecamatan Loa Janan kemarin banjir, pengaruhnya karena penyempitan, pendangkalan dan sedimentasi dari muara penyempitan hilirnya sehingga itu juga menjadi PR pemerintah daerah untuk segera melakukan normalisasi," sebutnya.
Wabup termuda dalam sejarah Kukar ini mengakui, di setiap kecamatan yang ada di Kukar, masing-masing berbeda karakteristik wilayahnya sehingga berbeda pula perlakuan penyelesaian permasalahannya.
Seperti banjir yang kerap terjadi di Kota Tenggarong, Pemkab Kukar juga sudah membahas bahwa ada area pembuangan untuk ke muara sungai itu yang dibutuhkan untuk dievaluasi dan ditinjau ulang.
"Semua upaya penanganan banjir yang sudah dilakukan pemerintah daerah ini harus dievaluasi dan ditinjau ulang kembali, termasuk penanganan banjir yang kita lakukan di Kota Tenggarong dan tentu seluruh kecamatan lainnya," demikian Rendi.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan