Aksi konyol pemuda ini memancing Remaong Kutai Berjaya (RKB) Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura untuk bertindak dengan cara mengamankannya.
Ketua Umum RKB, Hebby menceritakan pengamanan pemuda ini dilakukan lantaran aksinya itu dianggap tidak menghormati nilai-nilai adat di tanah Kutai.
Seperti diketahui, lokasi museum dulunya adalah bangunan kerajaan yang dianggap sakral oleh masyarakat Kutai.
"Maksudnya itu kan begurau, cuma salah tempat dan salah waktu," kata Hebby dikonfirmasi Korankaltim.com, Jumat (13/8).
Selain itu, pemuda ini dianggap minim wawasan soal tata nilai adat yang dijunjung di tanah Kutai. Pemuda tersebut, lanjut hebby, diberikan edukasi agar lebih memahami soal itu.
"Artinya tanah Kutai ini tanah yang beradat. Rata-rata masyarakat adatnya itu hidup dengan adat, mati berkalang tanah. Itu peribahasa etam Kutai ni," tuturnya.
Terkait dengan perekam video ini, Hebby menyebut tidak mengetahui pasti siapa pelakunya. Informasi yang didapatnya, si perekam adalah pacar atau istri pemuda tersebut, yang saat itu datang ke Museum Mulawarman untuk mengantarkan makanan untuk pemuda.
Akibat aksinya itu, pemuda ini dikabarkan dipecat oleh mandor di tempatnya bekerja. Hal itu sebenarnya sangat disayangkan oleh RKB.
"Maksud kami itu dia diberi sanksi yang mendidik seperti membersihkan makam misalnya. Cuma mandornya ini tidak mau ngambil resiko langsung dipecatnya tadi malam juga, kasihan," ujarnya
Pihak UPT Museum Mulawarman diketahui telah memanggil yang bersangkutan dan telah mengakui kesalahannya.
Kepala UPTD Museum Mulawarman Jaka Budiana menyebut, pemuda ini diminta untuk mengklarifikasi sekaligus membuat permohonan maaf terhadap pihak Kesultanan Kutai, Museum Mulawarman, dan masyarakat Kutai pada umumnya.
"Kejadian itu ditutup sampai di situ tidak akan diteruskan ke ranah hukum. Karena sudah disepakati antara kedaton dan pihak museum cukup meminta maaf aja. Diselesaikan secara kekeluargaan," kata Jaka.
Jaka mengimbau agar seluruh jajaran dan pengunjung untuk menjaga perilaku di dalam lingkungan museum.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor : Bambang Irawan