Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kukar Pahrudin menyebut pihaknya tidak memiliki unit untuk apheresis. Aktivitas untuk memisahkan plasma darah penyintas Covid-19 ini dilakukan di RSUD AM Parikesit Tenggarong Seberang dan pihaknya dimintai untuk menjadi tenaga medis.
Menurut Pahrudin, plasma golongan darah O dan AB lah yang paling sulit dicarikan pendonornya.
"Mungkin sebenarnya enggak susah, cuman banyak yang enggak mau karena prosesnya agak lama, kemudian pasti ujung-ujungnya mereka hanya mentransfusikan untuk keluarga terdekat," kata Pahrudin, Kamis (5/8).
Selain itu, penyintas rata-rata hanya bisa mendonorkan plasmanya sekali. Hal ini mengingat antibodi yang terbentuk dalam tubuh penyintas itu hanya bisa bertahan selama empat sampai enam bulan pascakesembuhan. Efektifnya antibodi diambil dibawah tiga bulan pascakesembuhan.
Sementara ini belum ada komunitas penyintas yang terbentuk khusus untuk penyediaan plasma. Karena itu, Pahrudin menyarankan agar para penyintas terlebih yang telah divaksin dapat terbuka untuk mendonorkan plasma darahnya.
"Beberapa kejadian teman-teman yang tidak bisa dibantu hanya karena susahnya mendapatkan itu," tutupnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Aspian Nur