Menyikapi hal ini, Direktur Utama (Dirut) Perumda Tirta Mahakam Suparno mengatakan, Kecamatan Samboja yang menjadi salah satu kawasan penyangga IKN akan memanfaatkan Waduk Agro Sari Kecamatan Samboja sebagai air baku.
"Waduk Agro Sari karena memang waduk ini pengelolaannya ada dibawah Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV, potensinya cukup luas sekitar 300 hektar. Karena Solok Api yang selama ini di Amborawang Laut dan Amborawang Darat itu memang air permukaan nya tidak ada, satu-satunya yang bisa kita ambil ya di Waduk Agro Sari," kata Suparno kepada korankaltim.com, Selasa (6/7/2021) hari ini.
Suparno menyebutkan upaya ini harus disiapkan sejak dini, karena dengan rencana pemerintah pusat memindahkan ke wilayah Kukar dan PPU menjadi IKN maka yang terdampak nanti tentu daerah-daerah penyangga, dan kebutuhan air bersih tidak bisa ditunda.
"Hari ini dan seterusnya ini memang harus kita siapkan upaya-upaya untuk pemenuhan air bersih, karena konsepnya itu sendiri di beberapa kali saya pernah mengikuti studi, Ibu Kota Negara itu tidak digunakan sebagai tempat tinggal, tapi pusat pemerintahan. Tempat tinggalnya adalah daerah-daerah penyangga dan tentunya infrastruktur jalan dan air bersih yang tidak bisa terpisahkan dan harus kita siapkan," sebutnya.
Selain memanfaatkan Waduk Agro Sari dan Waduk Samboja, Perumda Tirta Mahakam juga akan memaksimalkan lubang-lubang eks tambang yang ada di kawasan Loa Janan dan Loa Kulu untuk menjadi sumber air baku bagi daerah penyangga IKN.
"Karena kalau mengambil dari Sungai Mahakam tentu sangat jauh juga. Untuk ex void tambang yang mungkin bisa digunakan untuk sumber air baku maka Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV yang bisa mengkomunikasikan dengan jajaran OPD maupun dunia usaha. Sebetulnya tidak mengharapkan curah hujan, itu memang sudah ada sumber air nya, karena kedalamannya lebih dari 50 meter, saya yakin dengan kedalaman seperti itu ada sumber airnya," pungkas Suparno.
Penulis:Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur