“Belum lengkap hasil dan karena dokter hewan dari BKSDA nanti kami perlu suratin agar bisa mendapat hasil lengkap, namun yang jelas pesut sudah tua dan juga ada bekas rengge lama tersangkut didalam lambung,” katanya kepada korankaltim.com, Selasa (1/6/2021).
Ditambahkan pengawas Perikanan DKP Kukar, Fauzan yang melihat langsung kondisi si ‘Jay’, akibat tersangkutnya rengge ini tentunya menjadi salah satu indikasi penyebab kematian mamalia air tawar ini, karena bisa mempersulit untuk makan dan mencerna makanan dengan lancar.
“Maka pembatasan rengge sangat penting, khusus yang membahayakan pesut, seperti dari bahan benang dan ukuran besar diatas 7 sentimeter yang dipasang dengan pemberat,” ungkapnya.
“Kalau yang dipasang dengan pole (kayu, red)) seperti di danau masih dengan mudah dapat diangkat sama pesut sehingga bisa bernafas sambil menunggu bantuan untuk melepaskan dirinya dari jaring,” tambah Fauzan.
Jika rengge yang dipasang dengan pemberat yang sangat berat maka pesut tidak bisa lepas. Ia pun berharap kepada semua warga nelayan di kawasan perairan yang masih ada habitat pesut, untuk turut memperhatikan penggunaan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan dan tidak membahayakan pesut Mahakam yang dari waktu ke waktu keberadaannya kini terancam punah.
“Semoga untuk rengge dengan ukuran mata ukuran besar akan dilarang dalam kawasan dan dapat ditukar dengan alat rawai. Mari kita sama-sama jaga kelestarian habitat pesut Mahakam agar anak cucu kita masih bisa melihatnya kelak,” harapnya.[]
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Rusdi