"Memang dulu seperti itu, kami di Kedang Ipil sempat khawatir pada awalnya, karena dari SP 3 dan SP 1 itu lengkap dari fasilitas sarana penunjang ekonomi seperti bank dan pasar serta semacamnya. Kalau mereka yang jadi ibu kota, tentu kami agak susah pemerataan pembangunan, kalau di wadah kami jadi ibu kota kecamatan tentu jalan yang diutamakan, dampaknya tentu positif bagi kami," kata Pj Kepala Desa Kedang Ipil, Erhamsyah kepada korankaltim.com, Kamis (22/4/2021).
Berpredikat sebagai desa budaya, kekhawatiran lainnya muncul karena bisa jadi setelah berjalan efektif menjadi pusat pemerintahan kecamatan baru, entitas sebagai desa budaya lambat laun akan tergerus oleh zaman.
"Sebagai status desa budaya, masyarakat cukup khawatir karena dengan kemajuan dan segala macamnya itu ketakutannya ada dampak negatif ke budaya etam, yakni budaya Kutai Adat Lawas. Tapi kami optimis yang namanya untuk kemajuan itu memang kita harus menyelaraskan antara budaya etam lokal ini dengan kemajuan diluar harus seimbang makanya harus sepadan. Jangan jua ditinggalkan budaya Etam apalagi di Kedang Ipil ini ada budaya asli Kutai adat lawas," papar Erham.
Sejauh ini warga sangat antusias untuk percepatan pembangunan di Kecamatan Kota Bangun Darat yang dipusatkan di Kedang Ipil. "Kalau warga sangat antusias menyambut itu karena diimpikan-impikan, dan ada juga warga yang tidak percaya, masa ditengah hutan ada terjadi ibu kota kecamatan, namun kenyataannya Alhamdulillah ini terjadi," tegasnya.
Erham berharap agar pemerintah kabupaten segera melakukan percepatan pembangunan infrastruktur dan segala kelengkapannya. "Kami pihak desa yang sebelumnya sudah berkorban ini mencarikan lahan dan sebagai nya dan masyarakat juga mendukung, ya harapannya pemerintah instansi terkait itu harus segera terlibat mendukung untuk percepatan baik infrastruktur nya dan segi kewilayahan dan kelayakan serta sebagai nya lah harus mendukung. Lebih-lebih pengambil kebijakan di kabupaten itu bisa bergerak cepat untuk membangun infrastruktur disini," tutup Erham.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: Aspian Nur