“Memang ada banyak kecenderungan anak sekolah terutama yang SMP dan SMA tidak patuh dengan tidak mengenakan helm, ditambah lagi kan mereka ini rata-rata belum memiliki SIM,” ungkap Abror kepada korankaltim.com, Kamis (21/1/21).
Selain masih minimnya kesadaran para pelajar, peran orang tua sejauh ini juga sangat rendah dalam memberikan pemahaman dan edukasi bagaimana seharusnya berkendara yang baik dan taat aturan meskipun sang anak belum cukup umur untuk memiliki SIM.
“Orang tua juga tidak memberikan edukasi yang tepat, memberikan dengan mudah untuk anaknya menggunakan sepeda motor, sehingga anak pun bebas, ditambah lagi sekarang anak-anak itu hanya mengenakan masker saja kalau pakai motor, helm tidak dipakai,” sebutnya.
Dishub sendiri tetap dalam tupoksinya yaitu memberikan edukasi pembelajaran untuk anak sekolah, namun edukasi ini dilakukan secara berkala dan momentum, besar harapannya adalah peran utama masing-masing orang tua.
“Kita lakukan tiap tahun, baik langsung maupun tidak langsung karena pandemi jadi tidak boleh tatap muka. Kita juga men-stimulus seperti mengadakan lomba pelajar pelopor sebagai sarana materi pembelajaran,” jelasnya.
Memberikan edukasi bagaimana berkendara yang baik itu seperti apa dan memberikan hadiah untuk merangsang serta memotivasi agar pelajar bisa berkendara yang baik dan tepat sesuai aturan.
“Untuk kegiatan pelajar pelopor keselamatan LLAJ, tetap kita laksanakan dengan format berbeda dengan cara virtual karena masih covid. Ini penting karena salah satu sarana pembinaan kita ke pelajar dalam rangka meningkatkan keselamatan dan ketertiban dalam berlalulintas, guna mengurangi tingkat kecelakaan lalin. Dalam hal ini tentunya ada koordinasi dengan Satlantas Polres Kukar,” demikian Abror.
Penulis:Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan