Bambang mengungkapkan khusus di sektor SDA yang masih berkontribusi besar adalah pertambangan dan perkebunan setelah itu baru sektor migas.
“Pertambangan dan perkebunan itu relatif tetap. Kalau di sektor sekunder atau sektor hilirisasi itu 16 persen,” ungkapnya.
Namun sektor hilirasi atau industri ini tidak berkaitan dengan sektor primer yaitu SDA. Inilah yang menurut Bambang cukup disayangkan karena tidak berdampak signifikan pada income pendapatan daerah.
“Dia (industri, red) tumbuh namun dengan artian mekanisme input output-nya SDA tidak dipakai di industri sekundernya. Sektor investasi tersier yang justru tinggi yakni sebesar 23 persen,” terangnya.
Bambang menjelaskan kenapa justru sektor tersier yang lebih tinggi dibandingkan sektor sekunder, hal ini berkenaan dengan isu pemindahan Ibu Kota Negara (IKN).
“Karena isu IKN, jadi banyak sekali pelaku sektor primer langsung loncat ke tersier, jadi industri-industri yang tadinya bergerak di sektor primer, misalnya MHU itu mulai membuat listrik yang terbarukan seperti solar cell dan sebagainya untuk menyikapi isu IKN,” jelasnya.
DPMPTSP menegaskan, pihaknya tidak mempersoalkan dengan upaya pelaku sektor primer yang mengembangkan investasinya di sektor tersier, hanya saja diharapkan sektor tersier yang dikembangkan ini masih berhubungan erat dengan sektor sekunder.
“Yang kita sayangkan itu justru tidak terkait dengan sektor hilirisasi atau sekunder. Kalau sektor hilirisasinya terkait dan berkembang, tentu retribusi juga ikut meningkat terhadap percapaian PAD daerah kita,” pungkas Bambang.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan