Dari 12 grup yang tampil, utusan Kalimantan Timur tampil beda dan unik. Mereka mengiringi penampilannya dengan beatbox. Salawat yang mereka bawakan jadi enak didengar dan memukau diiringi tepuk tangan penonton.
Zulfikar yang berinisiatif mewarnai penampilan mereka dengan beatbox mengaku optimis untuk bisa lolos ke babak final.
Mereka sudah mempersiapkan beatbox jauh-jauh hari dan ini juga yang mengantarkan mereka ke tingkat nasional.
"Untuk materi kita sudah mempersiapkan dua bulan lalu, karena ada empat materi yang diberikan LPTQ pusat, dari empat materi salah satunya kita pilih saat tampil hari ini minimal 16 jam sebelum waktu tampil," ungkap Zulfikar dalam rilis resmi Kemenag Sumbar.
Zulfikar menuturkan perasaannya campur aduk, bahkan awalnya gugup tapi senang karena bisa membanggakan Kaltim di tingkat nasional. Mereka berharap bisa memberikan yang terbaik untuk Kaltim.
Sementara sang pelatih, Wiwik Angranti mengatakan komposisi tim Syarhil Quran baik putra maupun putri sudah terbentuk sejak Maret 2020 melalui seleksi yang dilakukan LPTQ Provinsi Kaltim.
"Tim ini terbentuk Maret 2020 oleh LPTQ, dan pada hasil MTQ Provinsi 2019 di Grogot itu terpilih juara satu dua tiga dan dipilih lagi dari tiga juara tersebut skill terbaik individu di antara mereka. Terpilih Zulfikar sebagai pensyarah, Adji mengaji dan Diki sebagai penerjemah," kata Wiwik saat dikonfirmasi korankaltim.com, Kamis (19/11/2020).
Wiwik berharap tim Syarhil Quran yang dilatihnya bisa tampil maksimal dan memberikan yang terbaik bagi Kaltim. Adapun tema yang didapat timnya adalah etika berkomunikasi di media sosial, tema ini juga sama bagi tim putri yang berkomposisikan Syafa dari Samarinda sebagai pensyarah, Sakinah dari Berau sebagai pengaji dan Dila dari Berau sebagai penterjemah.
Untuk membuat materi ia merujuk ke beberapa buku dan isu-isu terkini yang berkembang di masyarakat. Dikatakan Wiwik media sosial itu memiliki dampak positif dan negatif. Dalam melatih Wiwik bersama Kyai Fakhruddin LC.
"Positifnya media sosial membuat seluruh akses lebih mudah dan dampaknya juga mengkhawatirkan terhadap generasi muda. Semoga apapun hasilnya yang pasti kami sudah memberikan yang terbaik bagi Kaltim, terima kasih doa dan dukungannya," tukas dosen Unikarta ini.
Penulis Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan