Dirinya pun turut beberapa kali kesempatan menyaksikan langsung pekerjaan pemeliharaan yang dilakukan oleh pekerja di lapangan.
“Iya benar ada kegiatan pemeliharaan, karena saya tahu persis dan sering lewat di Jembatan Kota Bangun,” katanya kepada korankaltim.com, Kamis (5/11/2020).
Chairil mengungkapkan, adapun pekerjaan yang dilakukan hingga hari ini sudah berjalan selama satu bulan lebih. Oleh karena itu pihaknya berharap dukungan dari seluruh lapisan masyarakat dalam memperlancar upaya perawatan jembatan yang kini menjadi urat nadi utama perekonomian di sektor hulu Mahakam ini.
“Jembatan Kota Bangun upaya kegiatan perawatan itu sudah sebulan lebih, buka tutup jalur dan nanti tanggal 26 November bulan ini itu tutup total sekian jam, jadi diharapkan kepada masyarakat yang ingin ke Tabang, Kembang Janggut dan arah sebaliknya bisa menggunakan kapal fery gratis yang difasilitasi perusahaan setempat,” ungkapnya.
Sebagai informasi dalam hasil rapat yang dipimpin oleh Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Setkab Kukar, Selasa (3/11/2020) lalu, disepakati beberapa poin untuk memperlancar pekerjaan perawatan Jembatan Ing Martadipura Kota Bangun ini.
Pembatasan beban kendaraan maksimal 10 ton secara bergantian tanpa konvoi, kendaran kecil dapat melintas secara bersamaan sebanyak lima unit dalam satu arah.
Dimensi portal pembatasan beban dengan lebar 8,3 meter dan tinggi 3,5 meter. Penutupan total jembatan dilaksanakan 26 Nopember 2020 dari jam 07.00-17.00 (selama 10 jam). Selama penutupan total jembatan, akan difasilitasi dengan kapal fery penyeberangan tradisional secara gratis yang berlokasi di Desa Liang Ilir (bawah jembatan) kearah Desa Semayang. Pos penjagaan titik pemberhentian kendaraan di jalan pendekat untuk sisi Kota Bangun Desa Liang dan Desa Sebelimbingan ujung pile slab.
“Yang pasti kalau menurut kontraknya itu, kegiatan perawatan jembatan ini berakhir di 23 Desember,” terang Kepala Bagian Administrasi Pembangunan Setkab Kukar, Agus Suharto.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor : Bambang Irawan