Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kutai Kartanegara (Kukar) dr Martina Yulianti pada rilis pers, Jumat (10/7/2020) sore.
Namun, dia belum mau memastikan apakah mereka terjangkit oleh pasien KKR73 ataukah pelaku perjalanan.
Martina mengaku, data kontak erat tersebut harus diverifikasi terlebih dahulu.
"Dari swab massal memang ada yang positif di Sangasanga, namun saya belum bisa mengumumkan jumlah pastinya dulu. Disamping itu ada juga dari karyawan perusahaan yang sedang melakukan pemeriksaan PCR mandiri," kata Martina kepada media.
"Kita akan umumkan kalau data itu sudah masuk all record (database pusat)," imbuhnya lagi.
Hal ini menjadi peringatan bagi masyarakat di tengah memasuki fase New Normal.
"Saat ini orang-orangnya sudah kita evakuasi meskipun (kasus) belum diumumkan," tuturnya.
Tes swab massal di Sangasanga itu dilakukan lantaran pasien KKR73 meninggal di RSUD IA Moeis Samarinda pada 2 Juli 2020 lalu. Pemulasaraan dan pemakamannya tanpa protokol pemakaman jenazah Covid-19. Yang bersangkutan meninggal sebelum hasil Swabnya keluar, sehingga dimakamkan dengan cara biasa.
Melansir Alodokter.com, virus Corona memang masih bisa bertahan hidup selama beberapa saat di dalam cairan tubuh, darah, dan permukaan tubuh jenazah Covid-19. Itulah landasan kuat mengapa jenazah pasien Covid-19 harus dimakamkan secara protokol pemakaman Covid-19, dan dilakukan oleh petugas ber-APD lengkap.
Informasi yang dihimpun media ini, ada 4 orang kontak erat yang hasil uji swabnya positif Covid-19.
Martina enggan dikonfirmasi perihal data itu.
"Belum tentu. Bisa kurang, bisa juga lebih," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi