"Untuk dinilai saat ini belum bisa karena upaya ini masih dilakukan sepanjang tahun, meskipun hasilnya memang alami penurunan angka," sebutnya kepada korankaltim.com, Rabu (17/6/2020).
Menurutnya, upaya agar angka prevalensi stunting menurun juga terkendala karena Covid-19. Akibatnya program pada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) belum berjalan dengan maksimal.
"Banyak program belum jalan karena Covid-19 ini, tapi beberapa OPD tetap jalankan kegiatan yang berkenaan dalam upaya penanganan stunting," ungkapnya.
Sunggono menjelaskan pada tahun 2020 terdapat 21 desa yang menjadi lokus untuk penanganan. Sedangkan pada tahun 2021 terdapat 25 desa.
Pertimbangan penetapan desa menjadi lokus diantaranya dilihat dari hasil operasi timbang, dan 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan), baik dari bayi yang baru lahir, balita dan ibu hamil.
"Tiga bulan ini kita terkendala covid-19, tapi semuanya masih jalan, on progres lah. Ada desa yang presentase penanganan nya sudah 30 - 40 persen," pungkas Sunggono.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: M.Huldi