Kabar baik bahwa Akbar tidak terpapar Covid-19 ini dia umumkan di grup RT dan akun medsos-nya.
Dia bersyukur dengan hasil uji swab. Ini mengingat banyak masyarakat salah paham soal rapid test dengan hasil reaktif. Padahal, yang bisa membuktikan seseorang terpapar virus corona adalah uji swab.
"Saat hasilnya negatif, saya umumkan kabar ini dan warga senang sekali," ujar Abu Bakar saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Selasa (9/6/2020).
Sebelumnya, Muhammad Akbar dinyatakan reaktif saat menjalani rapid test pada 28 Mei 2020 lalu. Pemeriksaan tersebut merupakan pemeriksaan wajib untuk para pedagang pasar malam saat memasuki fase New Normal.
Ada 100 pedagang yang menjalani rapid test tersebut dan hanya Akbar yang dinyatakan reaktif.
Keesokan harinya Akbar dijadwalkan untuk menjalani uji swab tenggorokan. Abu Bakar mengungkapkan, Akbar memang terserang demam mulai pagi hari, ditambah lagi cuaca waktu itu sempat hujan.
Dia mengaku telah mengingatkan Akbaruntuk istirahat di rumah. Namun, mengingat sudah tiga bulan tidak menggelar lapak, Akbar terlihat semangat untuk kembali berdagang di lokasi baru yang telah ditentukan oleh Pemkab Kukar.
Abu Bakar sempat protes saat mengetahui hasil rapid test warganya itu dinyatakan reaktif dan meminta diulang. Namun, jika test ulang dikenakan biaya Rp500 ribu. Pilihan swab pun diambil setelah mengetahui pemeriksaan ulang imunoglobulin itu berbayar.
"Akhirnya tes swab saja sekalian. Kata dokternya positif ada virus, tapi belum tentu virus Covid-19," ucapnya.
Warga sekitar rumah Akbar, juga pedagang pasar malam lainnya turut khawatir setelah tahu hasil reaktif itu.
Warga pun berkali-kali diberikan pemahaman bahwa hasil reaktif itu belum tentu positif Corona.
Dia berharap, pengumuman yang dia buat terkait hasil uju swab terhadap Akbar itu menghapus stigma di lingkungan tempat Akbar tinggal maupun bekerja.
"Kapan dia (Akbar) mulai jualan belum tahu. Yang kasihan ya pasar malam ini, warga saya yang pedagang lainnya protes juga ke saya karena pasar malam sepi setelah adanya pemberitaan tersebut," ujarnya.
"Saya juga sempat hawatir, kalau dia positif maka bisa jadi satu RT bakal diisolasi. Syukurnya dia negatif," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi