Penjagaannya sangat ketat dengan sistem keluar masuk lewat satu gerbang. Ada aparat TNI-Polri hingga tim Gugus Tugas Kabupaten yang berjaga.
Sebelum menggelar lapak, para pedagang diharuskan untuk menjalani rapid yest terlebih dahulu. Setelah dinyatakan aman, pedagang diharuskan untuk mengenakan masker dan menerapkan jarak aman.
Calon pembeli pun diwajibkan untuk mengenakan masker, mencuci tangan, hingga diperiksa suhu tubuh sebelum memasuki kawasan itu. Anak-anak tidak diperkenankan untuk masuk.
Antusiasme para pedagang sangat tinggi dengan dibukanya kembali aktivitas pasar malam di Tenggarong.
Seorang pedagang sayur asal Loa Kulu, Neneng Anjarwati mengatakan, sudah sekitar dua bulan lalu tidak dapat berjualan akibat pengetatan sosial. Jual beli difasilitasi secara daring. Sayang, jarang sekali ada pembeli.
Hal itu menyebabka dagangannya membusuk. Dia bersyukur akhirnya pemerintah memberlakukan relaksasi ini.
"Kalau busuk banyak, misalkan seperti bayam ini, besok sudah tidak bisa dijual. Cabe masih tahan untuk dua hari. Alhamdulilah akhirnya bisa jualan di sini," kata Neneng.
Pedagang lain, Rifai, sangat bersyukur dagangannya laku pada malam tadi kendati pembeli hanya dua tiga orang. Selama dua bulan dia rela bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya sejak pasar malam ditutup.
"Saya senang artinya bisa berusaha lagi. Kalau dulu, apa saja dikerjakan yang penting menghasilkan," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: M.Huldi