Meskipun hingga sekarang belum diketahui hasil laboratorium pemeriksaan swab kedua pasien tersebut, Ria mengatakan posko penjagaan dianggap bisa meminimalisir dan mencegah kedatangan penduduk dari luar Kukar.
Diketahui pasien yang meninggal, Selasa (14/4/2020) memiliki riwayat baru tiba dari luar daerah. Wanita (45) yang berprofesi sebagai pedagang itu merupakan warga pendatang asal Jawa Timur (Jatim) yang mengontrak di Kecamatan Loa Kulu.
“Ini namanya Pemkab kita kecolongan dan lamban cegah dini karena nggak ada pendataan. Masa ada PDP dari luar bisa masuk ke Kukar. Bahkan pasien itu baru masuk isolasi tanggal 8 April dan meninggal kemarin (Selasa,Red),” katanya kepada korankaltim.com, Rabu (14/4/2020).
“Harus ada posko penjagaan di perbatasan. Jadi adanya warga yang keluar masuk Kukar bisa sejak dini didata,” pintanya.
Ia juga menyinggung terkait anggaran sebesar Rp 129 miliar untuk menangani permasalahan Covid-19. Seharusnya, dengan besaran anggaran ini bisa membuat langkah tim gugus tugas bisa bekerja lebih taktis.
“Buktinya sudah ada dana karantina serta penjagaan di airport dan pelabuhan baik yang ada Samarinda dan Balikpapan, namun tetap saja masih ada warga luar yang bisa masuk ke Kukar. Mirisnya lagi, saat sudah sakit parah, baru-lah ketahuan bahwa warga atau pasien itu sakit,” jelas Iyak, sapaan akrabnya.
Dia mengaku sudah tiga kali mengusulkan hal ini. Tapi tidak didengar. "Padahal kalau posko penjagaan ini sudah ada, bukan hanya Kukar yang aman, tapi Kutai Barat (Kubar) dan Mahakam Ulu (Mahulu) juga aman,” pungkasnya.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: M.Huldi