“Kita bekerja sama dengan rekan di Samarinda, dari pihak pelabuhan Samarinda. Kita melakukan langkah persuasif kepada yang bersangkutan untuk segera menyerahkan diri, karena bisa membahayakan orang lain jika sempat pergi ke Samarinda, apalagi kalau seandainya dia 'carrier'," kata Andrias saat menggelar konferensi video pada Kamis (9/4/2020) malam.
Saat dihubungi, lanjut Andrias, pemuda berumur 25 tahun itu diberikan pemahaman bahwa dia tidak akan bisa kembali ke Makassar, Sulawesi Selatan, lantaran pelabuhan Samarinda di sudah diblok. Petugas pelabuhan pun pasti akan mengamankan pemuda ini jika memaksa masuk ke sana mengingat identitasnya sudah diketahui dan dapat membahayakan dirinya juga orang lain.
"Sehingga dia ini berpikir dua kali untuk kembali ke Sulawesi, dan akhirnya menghubungi tenaga medis yang cukup dekat, yang merawat bersangkutan untuk meminta jaminan keamanan seperjalanannya kembali ke Wisma Atlet," ungkapnya.
Dari pengungkapan ini, diketahui pemuda tersebut sempat berada di wilayah Kelurahan Bukit Pinang Samarinda, kemudian ke Sungai Dama dan kembali lagi ke Wisma Atlet. Dalam perjalanannya, dia selalu menumpang kendaraan pikup yang lewat.
Motif pelariannya, dia hanya ingin kembali ke kampung halamannya, yakni di Sinjai , Sulawesi Selatan menggunakan kapal laut. Namun masih belum jelas alasan mengapa dia ingin kembali ke Sinjai. Pemuda ini juga mengakui, bahwa sepanjang perjalanannya belum pernah menyentuh orang lain. Polisi pun belum bisa memeriksa lantaran yang bersangkutan berstatus ODP, sehingga harus benar-benar dilaksanakan dengan SOP ketat.
"Kalau konsekuensi hukumnya pasti ada, tapi kita melihat kondisi yang bersangkutan dulu. Dalam hal ini dia kita periksa kondisi kesehatannya, itu yang terpenting dan tidak berkeliaran kemana-mana," pungkasnya.
Penulis: Reza Fahlevi
Editor: Desman Minang