Berbagai prosesi beberapa hari menjelang puncak perayaan Nyepi dilaksanakan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
“Melasti dan Pengerupukan, kalau tahun-tahun sebelumnya bisa sampai 50 sampai 200-an orang. Sekarang dibatasi. Bahkan, pengerupukan maksimal 20 orang saja,” kata I Nyoman Sunarbawa, perwakilan Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) Kukar kepada KORANKALTIM.COM, Selasa (24/3/2020).
Nyoman mengungkapkan, selain jumlah orang yang dibatasi, ada berbagai rangkaian kegiatan lain yang juga dibatasi.
“Biasanya ada menggunakan musik gamelan, tahun ini tidak dipakai. Karena untuk memainkan musik itu kan memerlukan banyak orang,” ungkapnya.
“Kita juga mengalami kerugian, karena parade ogoh-ogoh dipastikan batal. Mudah-mudahan ini pertama dan terakhir. Kerugian ini lumayan hampir semua di Indonesia, bikin ogoh-ogoh terpaksa dibakar di masing-masing pure, karena kalau parade tetap dilaksanakan takut memicu keramaian dan kerumunan warga,” demikian Nyoman.
Penulis: Muhammad Heriansyah
Editor: M.Huldi