"Awalnya pada 2010 itu data putus sekolah sebanyak 10 ribu anak. Namun setelah kami klasifikasi, jumlahnya tidak sebanyak itu, karena ada yang memang sudah lulus dan kategori lainnya," kata Tulus, Minggu (8/2/2020).
Tercatat ada 441 anak putus sekolah dari awal berjalannya program EBS di 2015. Berdasarkan data ini, pihaknya rutin melakukan kunjungan ke 18 kecamatan untuk berburu anak putus sekolah.
"Memang yang jemput bola itu kepala sekolah di masing-masing kecamatan, namun kita yang di Dinas juga rutin turun, tidak ingin hanya mendengar laporan yang baik-baik saja," sebutnya.
Hasilnya, angka putus sekolah jauh berkurang dalam kurun waktu lima tahun. "Kami saat ini hanya mencari sisa-sisanya saja," ucapnya.
Pihaknya berharap masyarakat turut berperan memberikan informasi yang valid untuk mendukung program EBS. Bahkan ia mengklaim 98 persen anak sudah tidak putus sekolah.
"Artinya yang putus sekolah sekitar 2 persen saja lagi, untuk di semua jenjang pendidikan," tutup Tulus.
Memberantas angka putus sekolah menjadi program prioritas Pemkab Kukar yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Sedangkan program EBS baru berjalan pada 2015 walau dicanangkan 2010.
Penulis : Muhammad Heriansyah
Editor : Hendra